INILAH.COM, Los Angeles Hampir enam bulan setelah kematian legenda pop Michael Jackson (Jacko), sebuah dokumen FBI mengenai kasus pelecehan seksual menyeruak ke publik.
Keberadaan The King of Pop di peraduan terakhirnya tak membuat niat media mengulik hidupnya surut. Lagi-lagi kasus pelecehan seksual yang melibatkan Michael pada 2005 kembali diungkit. Kali ini, FBI mengeluarkan dokumen setebal 333 halaman mengenai kakak kandung Janet Jackson itu.
Perlindungan Federal merupakan permintaan yang diajukan negara ketika sidang pelecehan seksual Michael pada 2005 lalu. Hal ini disebabkan ketakutan mengenai serangan teror, demikian penggalan laporan yang diluncurkan di AS beberapa hari lalu itu, seperti dilansir CNN, Kamis (24/12).
Dokumen itu juga menyatakan FBI membantu memfasilitasi wawancara di Filipina oleh penyelidik California. Salah satu korban pelecehan seksual Michael adalah seorang bocah berkebangsaan Filipina. Kepolisian Santa Maria di California meminta keterlibatan FBI sejak 2004 atau awal mencuatnya kasus pelecehan seksual sang bintang.
Menurut FBI, polisi meyakini persidangan Michael berpotensi menjadi soft target aktivitas terorisme. Sebab, mata media dunia sudah pasti tertuju ke bintang yang kontroversial sepanjang hidupnya itu. Seperti diketahui, teroris suka dengan banyaknya perhatian yang tertuju pada mereka.
FBI kemudian melaporkan tak ada ancaman terorisme dalam persidangan itu. Namun mereka mencatat keberadaan sebuah organisasi bernama The Nation of Islam pada awal sesi-sesi sidang Michael. Bagian keamanan organisasi itu, Fruits of Islam, ternyata disewa oleh Michael sebagai pengawal pribadi selama ia berurusan dengan hukum.
Kemudian tertanggal September 2003, seorang penyelidik dari Kepolisian Los Angeles (LAPD) dan seorang lagi dari Kantor Sheriff Santa Barbara tiba di Filipina untuk berbicara dengan dua mantan pekerja di rumah besar Michael, Neverland. Kedua orang inilah yang melaporkan melihat mantan bos mereka sedang melakukan pelecehan seksual terhadap bocah-bocah lelaki.
Keterlibatan FBI dalam hal ini dikarenakan LAPD menanyakan kemungkinan kasus antarnegara. Ada dugaan pelantun Black or White itu mengirimkan bocah-bocah antarnegara untuk tujuan amoral.
Hal ini dibawa FBI hingga ke Kantor Kejaksaan, tapi disangkal karena dugaan itu tak benar. Seorang agen FBI menemani para otoritas California itu untuk wawancara. Ia hanya bertugas memastikan takkan ada masalah, lanjut laporan itu.
Dokumen bertanggal 1992 hingga 2005 itu tersimpan rapi di gudang FBI. Namun media besar AS, Associated Press (AP) mengetahui. Maka mereka menuntut rilis dokumen, melalui UU Kebebasan Informasi. AP juga mendapat dukungan dari media lain, terutama setelah kematian Michael pada 25 Juni lalu.
FBI menyatakan dokumen tersebut aslinya setebal 679 halaman. Namun mereka tak bisa merilis seluruh bagian karena ada beberapa yang merupakan privasi sang bintang. Apalagi statusnya termasuk salah satu kasus high profile. Namun yang sebenarnya menjadi sorotan media AS adalah dalamnya keterlibatan FBI dalam kasus Michael.
Ketika kasus pelecehan seksual menyerangnya, peran FBI sama sekali tak terlihat. Publik hanya mengetahui Michael berurusan dengan polisi selama jalannya persidangan. Permintaan polisi kepada FBI untuk membantu, serta kekhawatiran mereka mengenai banyaknya sorotan ke kasus itu tak pernah diketahui.
Bagaimanapun, dunia telah kehilangan salah satu sosok musisi hebat. Apapun yang ia lakukan dalam kehidupan pribadinya kini tak penting lagi bagi banyak orang, terutama penggemar.
Mereka hanya ingin menjaga musik Michael agar tak lekang oleh waktu. Sisi positifnya, sang bintang masih mencetak pundi-pundi uang meski tak lagi berada di dunia ini. [mdr]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !