Minggu, 27 Mei 2012 | 02:21 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Sukses Pertemukan PWI & AJI
Tokoh Pers 2009: Luna Maya
Headline
Luna Maya - inilah.com/Danu
Oleh: IM Sumarsono
web - Jumat, 25 Desember 2009 | 00:47 WIB
Dua asosiasi besar pekerja media berada pada posisi berhadap-hadapan: Persatuan Wartawan dan Aliansi Jurnalis. Pemicunya: Luna Maya!

Cerita dimulai dari Luna Maya yang mau diwawancara oleh pekerja infotainmen. Kemudian ada insiden, anaknya Ariel yang bersama Luna kena senggol kamera. Luna gerah, lalu muncullah makian dalam ruang maya Luna Maya, twitter: Infotainmen lebih rendah dari pelacur.

Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) bereaksi. Infotainmen yang sekarang masuk dalam struktur keorganisasian PWI Jaya, merasa dilecehkan. Dalam kapasitas lembaga, infotainmen melalui PWI Jaya melapor ke polisi.

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) bereaksi. Apa yang dilakukan PWI Jaya dilawan. AJI membela Luna. Maka, perdebatan pun dimulai. Saling serang di televisi. Masing-masing punya pijakan yang kuat. PWI melihat Luna adalah figur publik, AJI melihat Luna sebagai pribadi yang seharusnya punya ruang private.

Sebagai orang yang juga bekerja di media dengan menjadikan informasi sebagai basis usaha, saya bertanya: yang benar siapa? PWI atau AJI?

Dua-duanya organisasi besar yang menjadi wadah aspirasi ribuan wartawan, pekerja media, jurnalis atau mungkin siapa saja yang memperoleh nafkah dalam kehidupannya dari pekerjaan mencari dan mengekspos informasi.

Realitas inilah (yang sampai sekarang masih saya pakai sebagai pilihan profesional) menunjukkan betapa kehidupan pers di Indonesia terbelah. Sealur dalam beberapa agenda, berbeda dalam beberapa kasus. Ada kepentingan-kepentingan yang tidak bisa diakomodir dalam sebuah lembaga formal.

Wajah pers Indonesia warna-warni. PWI dan AJI, hanya dua diantara sekian banyak asosiasi atau sekumpulan wartawan yang membangun diri dalam berbagai perhimpunan agenda. Masih banyak lagi perhimpunan wartawan dalam kepentingan parsial. Ada Forum Wartawan, Pokja Wartawan, Komunitas Wartawan, atau apalah namanya, yang diakhiri dengan kata Wartawan.

Beda pendapat PWI dan AJI makin menunjukkan pada publik, bahwa wartawan bukan mahluk bersih dari kepentingan dan agenda.

Wartawan punya cara pandang. Wartawan punya basis pijak ideologis dan intelektual. Wartawan punya agenda taktis, strategis atau kepepet. Yang penting lagi, wartawan punya pilihan kepada siapa dia harus berasosiasi.

Nah, sepanjang perjalanan saya yang hampir 14 tahun jadi wartawan, baru kali ini saya melihat PWI dan AJI bertemu dalam sebuah forum perdebatan terbuka (sambil sesekali diwarnai nuansa emosional). Yang satu memihak, yang lain menyerang Luna.

Bagi saya, Luna Maya adalah satu diantara sekian banyak agenda dan tema yang seharusnya terus-menerus diperdebatkan oleh asosiasi-asosiasi wartawan. Di situlah makin teruji dan terasah, betapa asosiasi wartawan makin berharkat. Tidak semua kasus dibela, tidak juga semua kasus dikecam.

Bagaimanapun, pers adalah kekuatan keempat dalam konstruksi bangunan demokrasi. Tanpa membangun diri dalam perdebatan intelektual dan basis pijak ideologis, wartawan hanya kartu keplek (istilah saya untuk menyebut kartu tanda pengenal yang suka digantungkan di leher), yang bisa dipakai siapa saja.

Tentu sangat berbahaya kalau itu terjadi.
Wartawan ibarat pisau bermata dua. Tajam menusuk lawan, berbahaya juga kalau mengenai diri sendiri.

Karena itu, PWI dan AJI, seharusnya terus berdebat untuk mengartikulasikan profesi wartawan dalam dinamika publik dan kepentingan wartawan sebagai pencari nafkah. PWI dan AJI harus terus membangun eksistensi profesi wartawan ini lewat komunikasi terbuka. Sehingga, siapa saja yang bekerja di media informasi, bisa belajar tentang profesionalisme kewartawanan.

Nah, kalau boleh usul siapa tokoh pers 2009 ini, saya pilih Luna Maya saja!
[*]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
7 Komentar
La
Senin, 4 Januari 2010 | 17:23 WIB
stuju3X...!!!! luna kerrennn... bgtt!! bisa bikin smuanya "bangun" :)
pro luna
Sabtu, 2 Januari 2010 | 17:25 WIB
Infotaintment memang tidak bermutu dan hanya mencari berita dgn menyakiti orang lain. Sebaiknya memang di hapus kan . Biar kan para selebriti punya kehidupan pribadi sendiri, jgn hanya dianggap objek cari duit saja. Masyarakat enggak butuh berita sampah begitu
Galih
Rabu, 30 Desember 2009 | 05:33 WIB
infotainment bukan wartawan. sesama wartawan sebaiknya bersatu. ato wartawan memang seperti infotainment. suka memotong-motong informasi biar makin banyak beritanya???
BEYE
Minggu, 27 Desember 2009 | 14:08 WIB
pekerja infotainment bkn wartawan !! mrk org PH yg dikasih kamera sama mike trus suruh cari cerita (bkn berita) ttg artis. lah...org2 infotainmen inhouse sebuah tv aja kan dikerjain org2 produksi, bkn news. wartawan darimenong ??
mh prihantoro
Sabtu, 26 Desember 2009 | 15:00 WIB
pelajaran buat semua orang, untuk lebih pandai menjaga diri cheers, MH Prihantoro http://jobkapalpesiar.wordpress.com
Independen - - bukan Indonesia
Jumat, 25 Desember 2009 | 08:19 WIB
AJI Aliansi Jurnalis Independen bukan Aliansi Jurnalis Indonesia.
damayanti
Jumat, 25 Desember 2009 | 05:59 WIB
Seharusnya bersikap bijak dalam hal ini..coba di cermati kata kata dalam twitnya Luna Maya..tidak sedikitpun Luna menyebutkan kata "wartawan " yang ia sebut hanya infotament..tidak ada embel embel kata wartawan...kenapa harus tersinggung...???
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.