inovasi portal berita
Kamis, 9 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.8,910.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS

Beras Tetap Teratas, Pangan Lokal Kian Tertinggal

Headline
inilah.com /Agung Rajasa
Oleh:
Jumat, 25 Desember 2009 | 15:22 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Sudah hampir 30 tahun penganekaragaman konsumsi pangan dijalankan di Indonesia, namun hasilnya belum seperti yang diharapkan, demikian Menteri Pertanian Suswono.

Konsumsi beras masyarakat Indonesia menurut Badan Pusat Statistik (BPS) mencapai 139 kg per kapita per tahun atau merupakan tertinggi di dunia. Konsumsi beras negara lainnya di Asia, seperti Jepang 60 kg dan Malaysia 80 kg per kapita per tahun.

Pada 2003 turun menjadi 109,7 kilogram, karena masyarakat mulai mengonsumsi pangan dengan bahan yang beragam. Selanjutnya pada tahun 2004 rata-rata konsumsi beras naik drastis menjadi 138,81 kilogram, dan sejak 2005 mencapai 139,15 kilogram per kapita per tahun.

Peningkatan konsumsi beras per kapita tersebut tentu saja berdampak pada semakin tingginya kebutuhan beras dalam negeri sehingga menuntut penyediaan yang semakin meningkat pula.

Menurut BPS, produksi padi secara nasional selama lima tahun terakhir menunjukkan peningkatan yang cukup berarti yakni dari 54,08 juta ton gabah kering giling pada 2004 menjadi 60,32 juta ton tahun 2008 dan pada 2009 ditargetkan 63,84 juta ton.

Sementara itu kebutuhan beras untuk konsumsi penduduk sebesar 30,57 juta ton jika asumsi penduduk Indonesia 219 juta jiwa dengan konsumsi per kapita 139,15 kg per tahun.

Meskipun produksi beras dalam negeri hingga saat ini masih mampu mencukupi kebutuhan penduduk, namun bukan berarti suatu saat tidak akan terjadi kekurangan, sehingga Indonesia harus mengimpor beras sebagaimana terjadi pada 2006 dan 2007.

Data BPS menyebutkan, pada 2006 impor beras Indonesia hampir mencapai 440 ribu ton kemudian pada 2007 menjadi 1,3 juta ton.Pada 2008 turun ke angka 289 ribu ton.

Tingginya konsumsi beras tak lepas dari sikap masyarakat yang semakin menjadikan komoditas tersebut sebagai pangan utama menggeser pangan lokal yang selama ini menjadi makanan pokok mereka.

Di Provinsi Maluku, sagu, yang semula makanan pokok, sudah turun peringkatnya menjadi urutan ketiga di bawah beras dan ubi kayu. Pohon sagu semakin jarang terlihat di Pulau Ambon. Kadang-kadang hanya sebagai pohon pajangan di halaman rumah.

Provinsi Maluku mengalami defisit beras yang relatif tinggi, yaitu 95.000 ton pada tahun 2008 dan hasil proyeksi 20 tahun mendatang akan defisit 82.000 ton. Lumbung utamanya adalah Pulau Buru dan Pulau Seram. Hal itu juga terjadi di Papua, NTT, Pulau Madura.

Di sisi lain juga terlihat pemerintah cenderung memprioritaskan pengembangan padi dibanding komoditas pangan lain yang selama ini dimanfaatkan sebagai makanan utama masyarakat Indonesia.

Seperti terlihat dari data Ditjen Tanaman Pangan yang mengutip BPS, pertumbuhan produksi ubi kayu dan ubi jalar masing-masing hanya 2,9 persen per tahun dan 1,34 persen per tahun selama empat tahun terakhir sedangkan padi mencapai 3,4 persen.

Selama 2004-2009 produksi ubi kayu naik dari 19,42 juta ton menjadi 22,37 juta ton sedangkan ubi jalar dari 1,90 juta ton menjadi 2,02 juta ton. Produksi jagung tumbuh cukup tinggi, yakni 9,95 persen per tahun dari 11,22 juta ton pada 2004 menjadi 17,69 juta ton pada 2009.

Di bidang prasarana, seperti jaringan irigasi pun umumnya dibangun peruntukan utamanya untuk padi, yaitu swasembada pangan, bukan diarahkan untuk palawija jagung dan ubi-ubian yang dapat menjadi sumber pangan.

Melihat konsumsi beras masyarakat yang semakin tinggi, Deptan menyatakan siap melakukan percepatan penurunannya. Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) Deptan Ahmad Suryana menyatakan, tingkat konsumsi tersebut dinilai masih terlalu tinggi sehingga diharapkan turun menjadi 99,3 kg dan pada 2015 menjadi 91,0 kg.

"Oleh karena itu kami akan melakukan upaya percepatan peningkatan konsumsi berbasis pangan lokal," katanya.

Menteri Pertanian pun meminta pemerintah pusat maupun pemerintah daerah untuk lebih kreatif dalam melaksanakan penganekaragaman konsumsi pangan. "Kita perlu melakukan suatu gerakan massal penganekaragaman konsumsi pangan berbasis sumberdaya lokal," kata Suswono.

"Kita harus lakukan kampanye, sosialisasi dan edukasi bahwa mengonsumsi sukun, singkong, sagu, jagung itu tidak kalah mulianya dengan mengonsumsi beras," kata Presiden dalam sambutannya pada perayaan HUT ke-42 Bulog.

Menurut dia, bahan pangan yang lain tak kalah berkualitas dibandingkan dengan beras. "Sama gizinya, terhormatnya, dan mulianya dengan mengonsumsi beras," katanya.

Terkait kebijakan itu Departemen Pertanian menargetkan bisa menjadikan dua ribu desa sebagai sekolah lapang untuk percepatan diversifikasi pangan tahun 2010. Pelaksanaan kegiatan percepatan penganekaragaman konsumsi pangan dan gizi itu ditingkatkan menjadi 10.000 kelompok di 200 kabupaten/kota pada 2011 dan menjadi 20.000 kelompok di 200 kabupaten/kota pada 2012.

"Hal ini dilakukan untuk mencapai sasaran target Pola Pangan Harapan sesuai amanat Perpres No.22 Tahun 2009 dan Permentan No.43 Tahun 2009", kata Kepala Pusat Konsumsi dan Keamanan Pangan Deptan Mulyono Machmur. [*/mre/hid]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.