Minggu, 27 Mei 2012 | 00:32 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Kontroversi Buku Membongkar Gurita Cikeas
Kok Grasa-grusu George ???
Headline
Oleh:
web - Rabu, 30 Desember 2009 | 09:16 WIB
Membaca dua Bab pertama buku Membongkar Gurita Cikeas, kesan pertama yang muncul adalah ketergesa-gesaan.

Fokus sebenarnya dari serial tulisan George Junus Aditjondro yang telah sering muncul di berbagai media adalah kelihaian dia untuk menelusuri Yayasan-yayasan yang ada di sekitar politik kekuasaan.

Dua bab yang diletakkan dimuka terlihat masih dalam bentuk sketsa analisis, penuh dengan hipotesa pemikiran penulis yang masih harus mencari data pembanding untuk memperkuat tulisannya.

Hal ini dapat dimaklumi karena buku ini sangat berkepentingan untuk mampu menarik perhatian masyarakat yang sedang tertuju perhatiannya pada membesarnya isu skandal Bank Century.

Selebihnya adalah proyek "idealis" George yang memang memiliki ketekunan yang lebih dari peneliti yang lain dalam persoalan mencermati keterkaitan antara bisnis dan kekuasaan di Indonesia.

Jika pembaca buku ini sering membaca tabloid tabloid maupun majalah-majalah yang mengibarkan semangat oposisi terhadap pemerintahan SBY tentu kumpulan tulisan George bukanlah tulisan yang baru muncul.

Rentetan tulisan George, kemunculan dia sebagai narasumber, hingga serial investigasi ala tabloid adalah hal-hal yang dirangkum kemudian dalam buku Membongkar Gurita Cikeas.

Kalau kemudian George merasa bahwa bukunya harus direvisi, tentu saja itu merupakan tanggung jawab George yang mempunya reputasi cukup bagus dalam menyajikan tulisan-tulisan yang penuh dengan data-data investigasi sekunder.

Buku ini jelas dicari karena iklan gratis dari reaksi Presiden SBY yang ternyata tidak bisa menahan diri untuk tidak berkomentar terhadap kemunculan berbagai suara kritis yang mengiringi langkah awal kekuasaan keduanya.

Tulisan-tulisan penulis muda dalam majalah Pantau yang pernah terbit beberapa waktu lalu jelas-jelas lebih kokoh dalam cara pandang investigatif dibandingkan dua bab pertama tulisan George Junus dalam buku ini.

Rangkuman obrolan warung kopi mungkin lebih tepat untuk menggambarkan dua bab pertama buku ini.

Bedanya yang melakukan obrolan di warung kopi tersebut adalah orang-orang yang selama ini mempunyai kedekatan dengan lingkar-lingkar kekuasaan maupun kroni-kroni politik yang dalam pernah dekat dengan kekuasaan terdahulu tetapi pada saat ini tidak ikut serta dalam rombongan pesta kabinet SBY jilid dua.

Yul Amrozi (amrozi@gmx.net)
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
6 Komentar
abdi bangsa
Minggu, 31 Januari 2010 | 09:42 WIB
Yang jelas bahwa George itu tak suka sama SBY sebab kalo mau diteliti mengapa SBY yang miskin yang jadi sasaran. Coba kalo mau dia terbitkan gurita bisnis JK yang luar biasa besar dan luas al armada airline yg besar. Lihat Bakrie tumbuh bersama Menko ekonominya yg. juga menggurita. G. yunus gak fair
Targus
Kamis, 31 Desember 2009 | 03:49 WIB
Sudah baca bukunya? kalau sudah anda akan temukan setiap nara sumber yang dikutip oleh GAJ. Kalau anda tidak percaya dengan GAJ terkait isi buku ini, maka secara tidak langsung anda meragukan semua nara sumber tersebut termasuk inilah dot com, warta ekonomi, batam pos, dll. Kalau anda tidak percaya dengan inilah dot com, harusnya anda tidak ada disini dong. Kalau anda katakan isi buku ini adalah gosip dan mulut penulisnya perlu ditampar, anda tampari dulu mulut para nara sumbernya. Buku ini mengungkapkan fakta, solusinya terserah pembaca menurut kemampuan berpikirnya. Banyak kalangan yang percaya kepada GAJ terkait validasi buku ini a.l. dosen Airlangga dan Ali Mochtar Ngabalin. Pernyataan anda yang mengatakan "tidak satu orang pun percaya kepada GAJ" dapat dianggap isu karena tidak berdasar. Kalau belum baca bukunya, download dulu disini http://www.ziddu.com/download/7945632/GuritaCikeas.pdf.html
Antonius Bastian Pancasila
Rabu, 30 Desember 2009 | 16:02 WIB
Semua presiden pernah dipermasalahkan oleh george dan opini masyarakat yang tertangkap seolah-olah seluruh orang mempercayai GJA, sejatinya tidak ada 1 manusiapun yang bisa mempercayai GJA. Sayang kuaintelektual dia dipakai untuk mencoreng bangsanya sendiri tanpa memberikan solusi
Citizen
Rabu, 30 Desember 2009 | 11:19 WIB
Mas rubrik ini adalah Citizen Journalism jadi Redaksi INILAH.COM tidak mengubah subtansi isi artikel/berita selama tidak menyinggung SARA.
Galih
Rabu, 30 Desember 2009 | 10:19 WIB
Tata nilai dan norma Bangsa dan Negara ini udah bener bener rusak. Orang yang asal berkomentar berseberangan, mengumbar isu/gosip bahkan fitnah kok malah dapat kepopuleran??? Seharusnya sesuai tata nilai, kalau mengumbar isu/gosip bahkan fitnah selayaknya ditampar mulutnya.
andi makmur
Rabu, 30 Desember 2009 | 09:50 WIB
Knp si ga pake bahasa ind yg baik & bnr. Di kamus ga ada istilah grasa-grusu & sy pun tak tahu artinya. Ktnya kt sepakat 1928 utk menggunakan bhs indo sbg bhs nasional. Ini kan forum umum jd sbaiknya gnkanlah sebagaimana mestinya.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.