Senin, 28 Mei 2012 | 20:38 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Inilah Perjalanan Hidup Gus Dur (2)
Jurnalis Penjual Es Lilin
Headline
Alm Abdurrahman Wahid - inilah.com /Dokumen
Oleh: Sakti Budiono
web - Kamis, 31 Desember 2009 | 00:05 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Pulang dari luar negeri tahun 1971, Gus Dur memulai karier sebagai jurnalis. Karena keluarga besar, Gus Dur nyambi dagang kacang dan es lilin.Inilah perjalanan hidup Gus Dur bagian ke-2.

Di Mesir, Gus Dur dipekerjakan di Kedutaan Besar Indonesia. Pada saat ia bekerja, peristiwa Gerakan 30 September terjadi. Mayor Jendral Suharto menangani situasi di Jakarta dan upaya pemberantasan Komunis dilakukan.

Sebagai bagian dari upaya tersebut, Kedutaan Besar Indonesia di Mesir diperintahkan untuk melakukan investigasi terhadap pelajar universitas dan memberikan laporan kedudukan politik mereka. Perintah ini diberikan pada Gus Dur, yang ditugaskan menulis laporan.

Gus Dur mengalami kegagalan di Mesir. Dia tidak setuju akan metode pendidikan serta pekerjaannya setelah G 30 S sangat mengganggu dirinya. Pada tahun 1966, ia diberitahu bahwa ia harus mengulang belajar.

Gus Dur merasa gagal dengan pendidikannya di Mesir. Gus Dur pindah. Dia mendapatkan beasiswa di Universitas Baghdad. Gus Dur pun pindah ke Irak dan menikmati lingkungan barunya.

Meskipun Gus Dur lalai pada awalnya, dia dengan cepat belajar. Gus Dur juga meneruskan keterlibatannya dalam Asosiasi Pelajar Indonesia dan juga menulis majalah asosiasi tersebut.

Setelah menyelesaikan pendidikannya di Universitas Baghdad tahun 1970, Gus Dur pergi ke Belanda untuk meneruskan pendidikannya.

Gus Dur ingin belajar di Universitas Leiden, tetapi kecewa karena pendidikannya di Universitas Baghdad kurang diakui. Dari Belanda, Gus Dur pergi ke Jerman dan Perancis sebelum kembali ke Indonesia tahun 1971.

Tiba di Indonesia, Gus Dur memulai kariernya justru sebagai jurnalis. Karier tersebut dimulai setelah bergabung dengan Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) tahun 1971.

Organisasi ini lantas mendirikan majalah yang kemudian menjadi terkenal. Yaitu Prisma. Saat itu, Gus Dur menjadi salah satu kontributor utama majalah tersebut.

Gus Dur melesat dengan kariernya sebagai jurnalis. Dia juga sering menulis untuk majalah Tempo dan koran Kompas. Artikelnya diterima dengan baik dan dia mulai mengembangkan reputasi sebagai komentator sosial.

Dengan popularitas itu, Gus Dur mendapatkan banyak undangan untuk memberikan kuliah dan seminar. Bisa ditebak, dia harus pulang-pergi antara Jakarta dan Jombang, tempatnya tinggal bersama keluarga.

Meskipun karirnya terbilang sukses saat itu, Gus Dur bukan orang yang kaya. Dia masih merasa kondisi ekonomi keluarganya kurang kalau hanya dari satu sumber pencaharian.

Akhirnya, Gus Dur bekerja mencari tambahan dengan menjual kacang dan mengantarkan es untuk dipakai sebagai bahan utama bisnis es lilin yang dikelola istrinya, Ny Sinta Nuriyah Wahid.

Pada tahun 1974, Gus Dur mendapat pekerjaan tambahan sebagai guru di Pesantren Tambakberas, Jombang. Satu tahun kemudian, Gus Dur menambah pekerjaannya dengan menjadi guru kitab Al Hikam.[bersambung/ims]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.