INILAH.COM, Jakarta - Gus Dur memulai kehidupan rumah tangganya dengan pernikahan jarak jauh. Sebagai wakil pengantin pria, Gus Dur meminta kakeknya mewakili. Inilah perjalanan hidup Gus Dur bagian ke-3.
Gus Dur menjalani urusan asmara pada masa muda, dengan cara yang berbeda dari remaja pada umumnya. Gus Dur menikah karena tidak mau dilangkahi adiknya yang segera akan melangsungkan pernikahan.
Gus Dur meminta tolong kakeknya, KH Bisri Syansuri, untuk melamar gadis pujaannya yang tak lain adalah bekas muridnya di Pesantren Tambakberas.
Tidak hanya itu, Gus Dur juga meminta tolong kepada kakeknya, untuk mewakili dirinya dalam. Gadis itu adalah Sinta Nuriyah, putri H Abdulah Syukur, pedagang daging terkenal.
Pada tanggal 11 Juli 1968, Gus Dur melangsungkan pernikahan jarak jauh. Inilah kejadian heboh pertama dari Gus Dur buat keluarga istrinya. Sebagaimana permintaan dia, wakil pengantin laki-laki adalah Kiai Bisri Syansuri.
Pernikahan ini sempat geger tamu undangan.Bagaimana tidak, pengantin laki-laki sudah tua. Namun kesalahpahaman itu hilang setelah pada 11 September 1971, pasangan Gus Dur-Nuriyah melangsungkan pesta pernikahan.
Pernikahan Gus Dur-Ny Sinta dianugerahi empat putri. Mereka adalah Alissa Munawwarah, Arifah, Chyatunnufus, dan Inayah. Keluarga Gus Dur tak jauh berbeda dari model keluarga lain. Konsepnya tentang suami-istri, misalnya, pernah diungkapkannya.
"Istri itu yang terbaik kalau nggak ikut campur urusan suami. Dan suami yang baik adalah nggak mau tahu urusan istri. Yang penting menghormati hak masing-masing. Saya nggak pernah cerita-cerita.''
Gus Dur punya kisah betapa susahnya menjalani hidup saat itu. "Pulang dari Mesir, saya mengajar di pondok pesantren. Untuk tambah-tambah penghasilan, istri saya tiap malam menggoreng kacang dan bikin es lilin. Kadang-kadang sampai pukul 02.00 pagi. Esok harinya dijual di warung-warung. Dia tidak guncang. Sampai hari ini, saya selalu ingat saat menderita dulu itu.''
Sebagai seorang ayah, Gus Dur sangat mencintai anak-anaknya, kendati dia memberikan kebebasan penuh kepada mereka untuk memilih cita-cita dan jenjang pendidikan yang harus dilalui.
Lisa, putri sulungnya, kini menyelesaikan pendidikan di Fakultas Psikologi UGM. Putri keduanya, Yenny, sempat menjadi asisten koresponden Harian The Sydney Morning Herald di Sydney. Putri ketiganya, Nufus, menyelesaikan studi sastra Cina di Universitas Indonesia. Si bungsu, Ina, masih duduk di bangku SMU.
Yang menarik, selain pernikahan, Gus Dur punya kontroversi lain. Gus Dur, nama lengkapnya adalah Abdurrahma Al-Dakhil, ternyata tidak tahu persis tanggal lahirnya.
Gus Dur memang tahu dia dilahirkan pada hari Sabtu di Denanyar, Jombang, Jawa Timur. Tapi, tidak tahu kapan tanggal kelahirannya.
Itu terjadi sewaktu kecil, saat Gus Dur mendaftarkan diri sebagai siswa di sebuah SD di Jakarta. Waktu itu Gus Dur ditanya oleh pihak sekolah,"Namamu siapa Nak?"
"Abdurrahman," jawab Gus Dur.
"Tempat dan tanggal lahir?"
"Jombang ...," jawab Gus Dur terdiam beberapa saat.
"Tanggal empat, bulan delapan, tahun 1940," lanjutnya
Gus Dur agak ragu. Rupanya, saat itu Gus Dur sedang menghitung tanggal dan bulan kelahirannya. Gus Dur hanya ingat bulan Komariahnya, yaitu hitungan berdasarkan perputaran bulan. Dia tidak ingat bulan Syamsiahnya atau hitungan berdasarkan perputaran matahari.
Gus Dur waktu itu mengingat bahwa dia lahir bulan Syakban. Itu sama saja dengan bulan kedelapan dalam hitungan Komariah. Tetapi gurunya menganggap itu Agustus, yaitu bulan delapan dalam hitungan Syamsiah.
Maka sejak itu, Gus Dur dianggap lahir pada tanggal 4 Agustus 1940. Padahal sebenarnya dia lahir pada 4 Syakban 1359 Hijriah atau 7 September 1940.[bersambung/ims]