INILAH.COM, Jakarta Pada perdagangan awal 2010 ini, pergerakan nilai tukar rupiah diprediksikan akan menguat terbatas. Masuknya investor asing dan profit taking dolar AS menjadi pemicunya.Ekonom Standard Chartered Bank Eric Alexander Sugandhi mengatakan, nilai tukar rupiah pada Senin (4/1), berpotensi menguat. Namun, kenaikan ini cenderung terbatas karena faktor teknikal, dimana ada penyesuaian seiring masuknya kembali para pelaku pasar. Hari ini, rupiah akan bergerak pada kisaran 9.350 9.550, katanya kepada
INILAH.COM, di Jakarta, Minggu (3/1) kemarin.
Menurutnya, penguatan rupiah dipicu banyaknya investor asing yang mulai berangsur-angsur masuk pasar, setelah tahun lalu keluar. Selain didukung aksi
profit taking atas dolar AS akibat valuasinya yang
overshold. Akibatnya, dolar AS tertekan menyusul penguatannya dalam beberapa pekan terakhir terhadap hampir semua mata uang dunia. Mata uang RI pun secara otomatis akan terangkat, paparnya.
Namun, penguatan rupiah cenderung terbatas karena investor belum sepenuhnya terjun ke pasar. Ia pun memprediksi, untuk pekan pertama Januari 2010, rupiah akan berada di 9.300-9.600 per dolar AS. Rupiah tetap masih cenderung menguat meskipun sangat tergantung juga pada data-data yang akan dirilis di AS pada bulan pertama tahun ini, paparnya.
Sedangkan pada Februari 2010, rupiah mulai terkoreksi akibat tren penguatan dolar AS di kuartal pertama. Hal ini dipicu perlambatan pertumbuhan ekonomi AS, menyusul habisnya efek positif dari paket stimulus fiskal di negara tersebut. Eric menilai, pergerakan dolar masih
contra-cyclical.
Ini berarti, jika ekonomi AS dipersepsikan memburuk, nilai tukar dolar AS akan menguat dan rupiah pun akan tertekan. Pasalnya, sebagai mata uang
save haven, mata uang AS akan diburu investor terutama pada aset-aset yang aman seperti
US treasury,ujarnya.
Hal inilah yang menyebabkan ada risiko pelemahan rupiah dan mata uang kawasan Asia pada kuartal pertama 2010. Namun, besarnya penurunan mata uang ini masih harus mencermati buruknya perlambatan ekonomi di AS dan bagaimana respon pasar. Pergerakan mata uang sangat dipengaruhi tiga faktor. Seperti fundamental ekonomi,
policy responds terhadap fundamental ekonomi serta persepsi pasar, ucapnya.
Menurutnya, jika fundamental ekonomi kuat dan
policy responds-nya bagus, tapi market memiliki ekspektasi yang negatif, mata uang suatu negara bisa saja tertekan. Sebaliknya, jika fundamental ekonomi dan
policy responds kurang baik, tapi persepsi pasar positif, mata uang suatu negara bisa menguat, Meski melemah, .
Karena itulah, Eric memperkirakan rupiah pada kuartal pertama 2010, akan tertekan ke level 9.700. Di kuartal kedua, rupiah akan kembali menguat ke arah 9.500 dan di angka 9.300 di kuartal ketiga. Sedangkan di kuartal keempat rupiah akan menguat ke level 8.900. Jadi secara umum, pergerakan rupiah sepanjang 2010, akan menguat kecuali di kuartal pertama, karena faktor global tadi, pungkasnya.
Kurs rupiah

di pasar spot valas antar bank Jakarta, Kamis (31/12) pekan lalu, ditutup menguat 36 poin (0,381%) menjadi 9.400/9.405. Sementara itu, peso Filipina melemah 0,0001% menjadi 46.160. Begitu juga dengan yuan China yang tekoreksi 0.0001% ke level 6.827 per dolar AS. [ast/mdr]