INILAH.COM, Jakarta - Ketua HIPMI Erwin Aksa menilai, pencapaian yang gemilang pada perdagangan bursa 2009 tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap sektor riil.
Seperti diketahhui, IHSG pada akhir 2009 berada pada posisi nomor 1 di ASEAN dan nomor 2 di Asia Pasifik.
"Karena sektor pasar modal lebih banyak putaran dana di pasar uang saja, sedangkan perusahaan yang sudah listing di pasar modal tidak melakukan ekspansi atas kinerja baik mereka tahun lalu," ujar Erwin di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (4/1)
Erwin menjelaskan, perusahaan-perusahaan terbuka terutama di sektor pertambangan saat ini masih cenderung untuk menahan ekspansi mereka sehubungan dengan hasil kinerja perseroan. "Perusahaan seperti pertambangan, CPO, dan infrastruktur, harusnya lebih ekspansif tahun ini, lebih menunjukkan investasi dengan menambah kapasitas pabrik," ujarnya.
Sementara terkait kebijakan Free Trade Agreement (FTA) Asean-China, Erwin yakin tidak akan memberi pengaruh cukup signifikan sehingga ekspansi tahun 2010 ini akan lebih besar ketimbang 2009. Pasalnya, FTA hanya akan melibas produk-produk rumah tangga dan manufaktur dalam negeri. "Sektor-sektor itu (pertambangan) masih primadona bagi investor asing, dan tidak akan terpengaruh FTA," ujar Erwin.
Kendati demikian, Erwin mengakui Indonesia memiliki daya saing yang rendah dengan Cina. Baik dari segi infrastruktur, birokrasi, dan biaya ekonomi yang tinggi. "Manufaktur Cina berjaya dan mampu memproduksi secara besar besaran karena biaya produksi rendah, biaya bunga di bawah 10%, penyediaan infrastruktur yang modern, dan insentif yang diberikan pemerintahnya," pungkasnya. [mre/san/cms]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !