INILAH.COM, Jakarta - Mendiang Presiden RI ke 4, Abdurrahman Wahid lengser karena pengaruh elit politik neo-orba. Gus Dur adalah korban konspirasi elit yang terusik akibat euforia reformasi.
"Gus Dur saat itu korban konspirasi elit neo-orba yang merasa tersudut akibat reformasi," kata pengamat politik UGM Arie Sudjito saat berbincang dengan INILAH.COM di Jakarta, Senin (4/1).
Dekrit presiden yang salah satunya membubarkan perlemen bukan faktor utama Gus Dur terjungkal. Justru dekrit adalah reaksi akhir dari konflik elit politik dalam pemerintahan kala itu.
"Saat itu memang terjadi pertarungan antar elit yang kencang, terutama ketidakpuasan PDIP sebagai partai pemenang pemilu tetapi tidak menjadi presiden," ungkap dia.
Pada zaman itu, benih-benih reformasi baru tumbuh relatif muda pasca rezim penguasa Orba. Otomastis para koloni di zaman tersebut merasa terancam dan dirugikan ditambah sikap Gus Dur yang kontroversial.
Maka ketika Gus Dur lengser, menurut Arie, pihak-pihak yang diuntungkan dan memanfaatkan moment tersebut adalah Golkar dan PDIP. "Peran Golkar juga turut campur dalam membuat skenario penggulingan Gus
Dur," imbuhnya.
Arie juga meyakini kasus Buloggate dan Bruneigate hanya jadi pemicu skenario besar tersebut. Konflik semakin runcing ketika Gus Dur bereaksi dengan mengeluarkan dekrit presiden yang membuatnya lengser pada 23 Juli 2001. [ikl/mut]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !