INILAH.COM, Jakarta - Fraksi PKB akhirnya resmi mengajukan mantan Presiden RI Abdurrahman Wahid yang akrab disapa Gus Dur sebagai pahlawan nasional melalui surat kepada Presiden SBY.
"FPKB mengambil langkah kongkrit dengan mengirimkan surat resmi permohonan pengangkatan Gus Dur sebagai Pahlawan kepada Presiden RI pada hari Senin ini (4/1)," ujar Ketua Fraksi Marwan Ja'far melalui pesan singkatnya di Jakarta, Senin (4/1).
PKB, kata Marwan adalah pelopor awal yang mengusulkan, Gus Dur sebagai pahlawan dan sesuai pasal 30 UU No.20/2009 tentang Gelar, Tanda jasa dan Tanda Kehormatan.
Bagi FPKB, kata Marwan, almarhum sudah memenuhi syarat, baik umum maupun khusus seperti yang diatur dalam pasal 24, pasal 25 dan pasal 26 UU No. 20/2009.
FPKB, lanjutnya mendorong kepada Pimpinan DPR dan semua fraksi di DPR, maupun kepada semua pihak untuk melakukan langkah serupa. Yaitu mengirimkan surat resmi kepada pemerintah yang mengusulkan Gus Dur diberi gelar sebagai Pahlawan Nasional.
"Hanya melalui mekanisme inilah, Presiden akan memiliki cukup data dan alasan secara legal formal untuk segera memproses pemberian gelar Pahlawan terhadap guru bangsa KH. Abdurrahman Wahid," katanya.
Surat permohonan yang disampaikan FKB itu selain ditembuskan ke Presiden, Mensesneg, dan Mensos tersebut, juga dilengkapi dengan satu bendel lampiran daftar riwayat hidup dan riwayat perjuangan Gus Dur. Pada lembar riwayat hidup yang mencantumkan gelar kehormatan (Doktor Honoris Causa) yang selama ini diperoleh Gus Dur, terungkap bahwa selama hidupnya, Gus Dur menerima gelar kehormatan tak kurang dari sepuluh buah, dari berbagai universitas di dunia.
Pertama, Doktor Kehormatan bidang Filsafat Hukum dari Universitas Thammasat, Bangkok, Thailand. Kedua, Doktor Kehormatan bidang Ilmu Hukum dan Politik, Ilmu Ekonomi dan Manajemen, serta Ilmu Humaniora dari Universitas Sorbonne, Paris, Perancis. Ketiga, Doktor Kehormatan bidang Kemanusiaan dari Universitas Netanya, Israel. Keempat, Doktor Kehormatan bidang Hukum dari Universitas Konkuk, Seoul, Korea Selatan. Sisanya ia memperoleh gelar serupa dari Institut Teknologi Aasia, Bangkok, Thailand; Universitas Chulalongkorn, Bangkok, Thailand; Universitas Twente, Belanda; Universitas Soka Gakkai, Tokyo, Jepang; dan Universitas Sun Moon, Seoul, Korea Selatan.
Selain gelar kehormatan, Gus Dur juga memperoleh berbagai penghargaan di tingkat nasional maupun internasional, misalnya Ramon Magsaysay Award yang prestisius untuk jasanya di bidang kepemimpinan komunitas, penghargaan sebagai "Bapak Tionghoa" untuk jasanya menghapuskan diskriminasi terhadap etnis Cina Indonesia, Tasrif Award - AJI untuk jasanya di bidang kebebasan pers, dan Mebal Valor Award (AS) untuk jasanya membela kaum minoritas dan agama Konghucu di Indonesia. [mvi/mut]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !