INILAH.COM, Jakarta Nilai tukar rupiah pada Selasa (5/1) diprediksikan akan melanjutkan penguatan, didorong aliran dana masuk (capital inflow) serta terkontrolnya inflasi selama 2009. Pengamat pasar uang David Sumual menuturkan, rupiah masih berpeluang menguat untuk jangka pendek di level 9.300-9.350 per dolar AS. Hal ini didukung aliran
hot money ke portofolio saham, obligasi pemerintah dan Sertifikat Bank Indonesia (SBI).
Masuknya dana ini terindikasi dari penguatan indeks saham sebesar 1,62% ke level 2.575,413, kenaikan tertinggi di regional, katanya saat dihubungi
INILAH.COM, Senin (4/1) petang.
Menurutnya, potensi penguatan rupiah akan dipicu data inflasi yang rendah di bawah ekspektasi pasar. Inflasi Desember 2009 terpantau mencapai 0,33%, dengan inflasi tahun kalender dari Januari hingga Desember 2009 sebesar 2,78%, dan inflasi
year on year 2,78%. "Inflasi sekitar 2,7% merupakan inflasi terendah dalam waktu 10 tahun sehingga memberikan sentimen positif terhadap rupiah," tutur David.
Dengan inflasi yang tetap rendah, lanjutnya, suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) diperkirakan belum akan berubah dalam waktu dekat. Suku bunga rendah ini pun akan mendorong investor mencari instrumen investasi berimbal hasil tetap, seperti obligasi pemerintah dan SBI. "Bila investor masuk sekarang, SBI akan meningkat, sehingga rupiah pun akan berada dalam tren penguatan," katanya.
Pertumbuhan ekonomi Asia yang masih positif, seperti di China, India, termasuk Indonesia, membuat investor tertarik berinvestasi ke emerging market. "Mereka pun berbondong-bondong masuk ke pasar domestik, ucapnya.
Di sisi lain, pengamat pasar uang Edwin Sinaga juga memperkirakan rupiah hari ini masih berpeluang menguat hingga 9.300 per dolar AS, meski kenaikannya tidak sebesar perdagangan sebelumnya. Penguatan ini disebabkan masih berlanjutnya sentimen positif di pasar, ujarnya.
Menurut Edwin, pulihnya ekonomi global akan mendorong ekonomi nasional tumbuh 5,5%. Kondisi ini menjadi daya tarik utama investor asing tetap bermain di pasar domestik. Rupiah pun akan terus menguat. "Kami optimistis rupiah kalau tidak ada hambatan akan dapat mencapai angka 9.000 per dolar pada periode pertama 2010," ucapnya.
Namun, lanjut Edwin, upaya mata uang lokal ini untuk mencapai angka 9.000, bukan perkara mudah. Salah satu penghambatnya adalah aksi Bank Indonesia (BI) yang kurang menyetujui kenaikan rupiah lebih cepat. BI mempunyai kepentingan terhadap dolar, karena itu upaya kenaikan rupiah lebih jauh kemungkinan agak berat, katanya.
Kurs rupiah

di pasar spot valas antar bank Jakarta, Senin (4/1) melesat naik 72 poin terhadap dolar AS menjadi 9.330. [ast/mdr]