INILAH.COM, Jakarta - Kurs rupiah terhadap dolar AS di pasar spot antarbank Jakarta, Selasa sore akhirnya dapat menembus angka Rp9.300 per dolar atau naik 35 poin karena pelaku pasar aktif membeli mata uang Indonesia itu.
Nilai rupiah terhadap dolar naik menjadi Rp9.290-Rp9.300 per dolar dari sebelumnya Rp9.325-Rp9.335.
Pengamat pasar uang, Edwin Sinaga di Jakarta, Selasa (5/1) mengatakan, rupiah bahkan diperkirakan masih bergerak naik pada perdagangan berikutnya.
"Namun kenaikan rupiah yang terlalu cepat kurang menguntungkan, karena dikhawatirkan akan mudah terkoreksi," katanya.
Edwin Sinaga yang juga Dirut PT Finan Corpindo Nusa mengatakan, kondisi pasar seperti diperkirakan akan berlanjut, karena hot money yang masuk ke pasar makin besar, sehingga rupiah diperkirakan akan dapat mendekati angka Rp9.000 per dolar.
"Apabila rupiah mencapai angka Rp9.000 per dolar, maka Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan menahannya melakukan intervensi pasar," katanya.
Menurut dia, BI masuk pasar agar kenaikan rupiah tidak terus terjadi sehingga hasil ekspor Indonesia tidak merosot lebih jauh.
"BI mempunyai kepentingan terhadap ekspor Indonesia," ujarnya.
Apabila BI membiarkan kenaikan rupiah terhadap dolar, lanjut dia, maka para eksportir diperkirakan akan mengeluh da meminta BI untuk mengawasi pasar agar gejolak rupiah tidak terlalu cepat.
"Kami optimis BI akan melakukan intervensi pasar sehingga gejolak rupiah tidak begitu cepat," katanya.
Indonesia, menurut Edwin Sinaga, merupakan pasar potensial bagi investor asing, karena mereka menilai bermain di pasar domestik lebih menguntungkan dari pasar Asia lainnya.
"Apalagi selisih tingkat suku bunga rupiah terhadap dolar AS masih tinggi," katanya. [*/cms]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !