INILAH.COM, Jakarta Penguatan tajam di bursa saham, berhasil mendongkrak rupiah ke level 9.285. Tapi, buruknya data pengangguran Jerman dan intervensi BI menghambat penguatan mata uang RI lebih jauh. Kurs rupiah

di pasar spot valas antar bank Jakarta, Selasa (5/1) ditutup menguat 10 poin (0,107%) terhadap dolar AS menjadi 9.320/9.325, ketimbang posisi kemarin di 9.330/9.335. Berdasarkan data Bloomberg pukul 17.00 WIB rupiah menguat 26 poin (0,27%) menjadi 9.320 per dolar AS.
Ricardo Simatupang, analis valas dari Bank Panin mengatakan, penguatan rupiah hari ini disebabkan besarnya arus
capital inflow ke pasar saham. Hal ini terindikasi dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG
^JKSE ) masih menguat tajam 29,86 poin (1,16%) menjadi 2.605,28.
Karena itu, rupiah ditutup menguat ke level 9.320. Bahkan, sepanjang perdagangan rupiah sempat perkasa di level 9.285, katanya kepada
INILAH.COM, di Jakarta, Selasa (5/1).
Menurutnya, pekan ini investor masih memiliki harapan terhadap penguatan rupiah seiring
January effect di bursa saham. Namun, intervensi BI dan data pengangguran di Jerman yang memburuk menahan penguatan rupiah.Pertambahan penganggurannya lebih kecil dari yang diperkirakan tapi, tetap saja membuat pasar
agak ragu-ragu membeli mata uang RI, ujarnya.
Pasar tenaga kerja Jerman Desember memburuk. Secara keseluruhan, pada 2009 lalu, 3.423 juta orang rata-rata kehilangan pekerjaan, lebih banyak 200 ribu ketimbang 2008. Angka pengangguran naik menjadi 8.2% pada 2009, dibandingkan ekspektasi kontraksi pada kegiatan ekonomi sebesar 5%.
Ricardo menuturkan, koreksi tipis ini bukan hanya terjadi pada rupiah, tapi juga pada mata uang utama. Misalkan terhadap euro, dimana dolar AS sore ini ditransaksikan menguat ke level US$1,4423/1,4428.
Saat ini, lanjutnya, pasar menunggu data
new home sales di kawasan Eropa dan data
consumer confident di Prancis yang belum rilis. Mudah-mudahan ada angka yang bagus sehingga pengaruh negatif dari kekhawatiran akan bertambahnya pengangguran Jerman bisa dinetralisir, imbuhnya.
Namun, pengaruh positif itu masih berpotensi rusak jika BI terlalu gencar mengintervensi rupiah dengan memborong dolar AS. Pasalnya, penguatan rupiah dapat terhambat. Menurutnya, tujuan BI adalah agar produk Indonesia bisa bersaing di pasar ekspor, dimana BI juga mengontrol keran impor secara tidak langsung.
Pasalnya, jika produk impor ternyata lebih murah, maka importir akan melakukan impor berlebihan. Tindakan yang dilakukan BI masih wajar. Karena Indonesia sendiri membutuhkan rupiah yang kuat, tapi tidak terlalu kuat, tuturnya.
Lebih jauh Ricardo mengatakan penguatan rupiah sejak Maret 2009 telah memicu berkurangnya surplus neraca perdagangan Indonesia. Memang pertumbuhannya masih positif tapi angkanya mengecil. Artinya, ekspor Indonesia kurang bersaing dengan produk negara lain, pungkasnya.
Nilai tukar rupiah sore ini terpantau ditransaksikan pada level 8.495 terhadap dolar Australia, di angka 13.418 terhadap mata uang gabungan negara-negara Eropa (euro), dan di posisi 6.662 terhadap dolar Singapura.
Sementara itu, mata uang kawasan mendominasi penguatan terhadap dolar AS. Hanya tiga mata uang yang melemah. Dolar Hong Kong turun 0,01% menjadi 7.756, dolar Taiwan terkoreksi 0,30% ke level 31.840, dan yuan China melandai 0,0001% ke angka 6.827 per dolar AS.
Selebihnya, mata uang kawasan menguat terhadap dolar AS. Yen Jepang naik 0,55% ke posisi 91.990, dolar Australia terangkat 0,11% menjadi 0.911, dolar New Zealand terdongkrak 0,15% ke level 0.733, dan dolar Singapura menggeliat 0,23% terhadap dolar AS ke angka 1.395.
Begitu juga dengan won Korsel yang melambung 1,22% ke posisi 1.140, peso Filipina menanjak 0,03% menjadi 45.920, rupee India siuman 0,27% ke level 46.181, ringgit Malaysia bangkit 0,55% ke angka 3.384, dan baht Thailand merambat naik 0,19% ke posisi 33.1450 per dolar AS. [ast/mdr]