INILAH.COM, Jakarta - Seminggu setelah wafat, ribuan para pelayat semakin membanjiri pusara mantan Presiden Abdurrahman Wahid. Antusiasme masyarakat yang besar itu buah dari egalitarian Gus Dur, bukan citra.
"Gus Dur itu sosok yang apa adanya, ia nggak pernah suka menjual pencitraan," kata seniman yang juga sahabat Gus Dur, Emha Ainun Najib kepada INILAH.COM di Jakarta, Rabu (6/1).
Pria yang akrab disapa Cak Nun ini mengatakan, ribuan pelayat yang datang ke pusara Gus Dur di Jombang, Jawa Timur membuktikan betapa mereka mencintai sosok Bapak pluralisme ini dengan tulus. Mereka mengaji, mendoakan, hingga ada sebagian orang yang mengambil tanah makam Gus Dur yang diangap keramat.
"Jadi beda dengan pencitraan, karena tidak mungkin masyarakat berbondong-bondong melayat dari pelosok tanah air," ujarnya.
Dedengkot grup Kyai Kanjeng ini menilai, sungguh jarang ada negarawan yang seperti Gu Dur. Berbeda dengan politisi saat ini yang ramai-ramai menjual citra untuk menarik simpati masyarakat.
"Makanya apakah warisan ajaran Gus Dur ini perlu dilestarikan, menganugerahi gelar pahlawan nasional atau tidak Gus Dur sudah menjadi pahlawan buat rakyat," ungkap Cak Nun.. [ikl/jib]