INILAH.COM, Jakarta - PT Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) belum memutuskan untuk membeli saham umum penawaran perdana Pembangunan Perumahan (PP).
Hal itu disampaikan Direktur Investasi Jamsostek Elvyn G Massaya, Rabu (6/1)."Belum ada jumlah saham dan kisaran harga sehingga belum tentukan berapa jumlah saham yang akan diambil," tutur Elvyn.
Ia menambahkan, untuk berinvestasi Jamsostek mengacu pada imbal hasil bukan pada masalah pendanaan. Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memiliki batasan untuk berinvestasi. "BUMN lebih besar untuk saham sekitar 20% hingga 30%. Non BUMN di bawah 20% sedangkan obligasi sekitar 40%," tambah Elvyn.
Lebih lanjut ia mengatakan, harga saham dan prospek bagus maka Jamsostek bisa mengambil sekitar 30 persen. Jamsostek juga melakukan diversifikasi investasi antara lain sekitar 30 persen untuk deposito, obligasi sekitar 45 persen, saham sekitar 17% dan reksadana sekitar 5%. "Obligasi jauh lebih besar karena investasi Jamsostek pada jangka menengah dan panjang," katanya.
Selain itu, Jamsostek juga mendapatkan potensi gain lebih besar dari investasi saham. Jamsostek juga menargetkan dana kelolaan mencapai Rp91 triliun pada 2010.Sebelumnya Jamsostek memiliki dana kelolaan sekitar Rp79 triliun pada 2009 dan sekitar Rp61 triliun pada 2008.
Sebelumnya, Jamsostek berencana untuk membeli salah satu unit bank syariah dan diharapkan rampung pada semester 2 2010. Jamostek sedang jajaki 5 bank syariah untuk pembelian satu unit bank syariah. Bank syariah tersebut antara lain BNI Syariah, bank Bukopin, USS BTN, Bank Muamalat, dan Bank Agro. [san/cms]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !