RANAH hubungan internasional membuka tahun baru 2010 dengan ketakpastian dan kemungkinan krisis.
Pertalian Cina dan Amerika yang berperan besar dalam menentukan corak hubungan internasional dewasa ini diperkirakan bakal mendatangkan krisis. Penyulutnya tak lain dari dua faktor yang boleh dikatakan sudah jadi 'klasik'. Itulah soal Taiwan dan Dalai Lama.
Sesuai persetujuan Kongres Amerika, pemerintah Obama akan segera melakukan penjualan senjata canggih kepada Taiwan. Padahal, negara pulau itu selalu diklaim oleh pemerintah RRC di daratan Cina sebagai bagian tak terpisahkan dari wilayahnya.
Paket penjualan senjata bernilai miliaran dolar itu berupa penyerahan helikopter Black Hawk dan meriam antipeluru kendali yang mampu menangkis serangan datri daratan. Juga AS telah menyetujui perakitan kapal selam bertenaga diesel di pulau itu guna memenuhi kebutuhan Angkatan Laut Taiwan. Lebar selat pemisah antara daratan Cina dan Taiwan yang hanya sekitar 20 km sudah cukup bagi kapal-kapal selam biasa Taiwan untuk mampu masuk ke wilayah laut yang diklaim Cina.
Faktor kedua adalah soal Dalai Lama. Rencananya pada awal tahun ini Presiden Obama akan menerima pemimpin spiritual Tibet Dalai Lama. Untuk dicatat, pemimpin Tibet itu telah lama mendapat kecaman dan tuduhan dari pemerintah RRC sebagai seorang tokoh separatis yang melakukan aksinya dari pusat kegiatannya di Dharamsala, wilayah India yang tak jauh dari perbatasan Cina.
Faktor Dalai Lama ini memang agak mengejutkan. Pada akhir 2008 lalu, demi memelihara hubungan baik dengan Cina, Obama telah menolak menerima Dalai Lama di Gedung Putih. Keputusan ini mendapat pujian dari Beijing sebagai langkah positif buat memelihara hubungan antara kedua negara.
Kebijakan pemerintah Amerika untuk menjual senjata kepada Taiwan dan menerima Dalai Lama diperkirikan bakal memperuncing hubungan antara kedua negara. Padahal, sampai Desember 2008 hubungan itu boleh dikatakan hangat dan mencapai puncaknya dengan pertemuan puncak di Beijing yang dihadiri Menteri Luar Negeri Hillary Clinton dan kunjungan kenegaraan Obama ke Beijing.
Belum ada reaksi resmi Beijing atas dua langkah Amerika yang buat Cina akan dianggap sebagai tamparan, walaupun tanda-tandanya sudah kelihatan. Duta besar Cina untuk Washington, Zhou Wenzhong, mengatakan, ia berharap Obama tak akan merealisasikan keputusan itu. Sebegitu jauh para pejabat Gedung Putih tak menganggap ini bakal serius, karena katanya ada hal yang lebih penting dan lebih strategis untuk perlunya kerjasama Beijing-Washington. Para pengamat internasional dan kalangan akademisi berpendapat sebaliknya: hubungan Beijing-Washington sedang menuju ke titik krisis.
Namun, Beijing pasti akan bereaksi keras. Karena penjualan senjata kepada Taiwan yang selalu mendapat cap 'propinsi yang mencoba memisahkan diri', dan Dalai Lama sebagai pemimpin separatisme Tibet akan dianggap Cina sebagai intervensi dalam urusan domestik Cina. Beijing selalu sangat sensitif terhadap faktor itu.
Dilihat secara keseluruhan dugaan Gedung Putih bahwa dua kebijakan itu tak akan menuai krisis adalah tak berdasar. Amerika masih memerlukan Cina dalam tiga hal yang sangat strategis.
Pertama, ia masih memerlukan dukungan Beijing untuk menekan Korea Utara agar bersedia kembali ke meja perundingan dalam masalah kepemilikan senjata nuklir.
Kedua, Washington pun masih memerlukan Cina buat menekan Iran, juga dalam masalah kepemilikan senjata nuklir. Bahkan ada kesan, Cina 'mempermainkan' AS dengan segan-seganan mendukung PBB untuk menjatuhkan sanksi kepada negara mulah ini. Ketiga, kerjasama dengan Cina juga diperlukan untuk mengatasi krisis perekonomian dunia.
Ada lagi hal keempat yang juga memerlukan dukungan Cina, yakni soal bagaimana mengatasi perubahan iklim. Cina adalah negara industri besar yang memberikan andil besar atas pemanasan global.
Sebegitu jauh dalam segala urusan internasional yang memerlukan kerja samanya, sikap Cina dianggap Amerika (dan Barat pada umumnya) sebagai 'jual mahal'. Ia dianggap sebagai Adi Daya baru yang tengah bangkit dan bangga lantaran perekonomiannya yang tak begitu kena dampak buruk oleh resesi dunia. Itu dibuktikan oleh pertumuhan eknominya yang sejak 30 tahun terakhir ini selalu di atas angka 8%.
Cina juga bangga karena sistem politiknya yang otoriter malahan bisa bertahan di tengah krisis dunia. Ia menganggap dirinya lebih superior ketimbang negara-negara yang mempraktekkan sistem demokrasi.
Dalam masalah Taiwan dan Tibet, Amerika juga dalam posisi serbasalah. Sudah lebih dari 50 tahun Amerika selalu menjadi sahabat dan pelindung Taiwan. Kalau Washington mencampakkan Taiwan untuk menjadi 'korban' Cina, kredibilitasnya sebagai sahabat dan kampiun demokrasi akan dipertanyakan. Citranya sebagai pelindung dunia bebas dan jagoan hak menentukan diri untuk merdeka juga akan luntur kalau ia meninggalkan dukungan kepada Dalai Lama.
Penulis adalah pengamat Cina [mor]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !