INILAH.COM, Taipei Meski mendapat pertentangan dari China, AS tetap menjual rudal pertahanan udara yang canggih, Patriot, ke Taiwan.
Dephan AS mengumumkan izin untuk perusahaan Lockheed Martin Corp. menjual sejumlah rudal Patriot. Perangkat keras itu, beberapa di antaranya adalah terbaru dalam kelasnya. Senjata itu juga dapat menembak jatuh rudal-rudal jarak dekat dan menengah China.
Menurut Kepala Biro Asia Berita Pertahanan, Wendell Minnick, penjualan senjata senilai US$6,5 miliar itu disetujui semasa pemerintah mantan Presiden AS George W Bush, akhir 2008. Ini adalah bagian terakhir yang ditunggu Taiwan, ujar Minnick.
China yang merasa berkuasa atas Taiwan, mendesak AS membatalkan rencana penjualan senjata guna mencegah kerusakan hubungan dengan Beijing. Jubir Deplu China Jiang Yu mengatakan AS harus membatalkan rencana itu.
Sementara Laksamana Muda Yang Yi mengemukakan kepada kantor berita CNS, meski perkembangan hubungan baik China-AS penting, ada hal-hal yang tidak bisa diterima. Apalagi AS mengubah pengakuan diplomatiknya dari Taipei kepada Beijing tahun 1979 dan mengakui kebijakan satu China (One China Policy).
China mengklaim kedaulatan atas Taiwan yang memiliki pemerintah sendiri sejak tahun 1949, ketika kelompok komunis yang dipimpin Mao Zedong menang dalam perang saudara. Juga ketika kelompok nasionalis (KMT) yang dipimpin Chiang Kai Shek lari ke pulau itu . Beijing berikrar akan mengembalikan Taiwan ke dalam kekuasaannya, jika perlu dengan kekuatan militer.
Tetapi AS tetap merupakan sekutu paling besar Taiwan dan diwajibkan sesuai dengan Perjanjian Hubungan Taiwan untuk membantu pertahanan pulau itu. Kementerian pertahanan Taiwan menginginkan AS tetap menjualkan senjata kepada Taiwan untuk pertahanannya sendiri, tutur Jubir Militer Taiwan Martin Yu.
Taiwan memperkirakan China mengarahkan seribu sampai 1.500 rudalnya ke pulau itu. [*/vin]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !