INILAH.COM, Jakarta - Selain Abdurrahman Wahid, mantan Presiden Soeharto pun dianggap pantas diberi gelar pahlawan. Jika terus menuai kontroversi, sebaiknya kedua tokoh insipasi itu disatukan dalam sebuah gelar pahlawan.
"Untuk mencegah kecemburuan, Gus Dur dan Soeharto digabungkan dalam satu gelar saja, misalnya gelar pahlawan spiritual-material," kata pengamat politik Universitas Muhammadiyah Surakarta Aidul Fitriciada kepada INILAH.COM di Jakarta, Sabtu (9/1).
Sebelumnya, Partai Golkar menyatakan jika Gus Dur dianugrahi gelar pahlawan, maka Soeharto juga pantas mendapat gelar pahlawan nasional. DPR telah sepakat untuk membahas gelar kepahlawanan Gus Dur secepatnya.
"Gus Dur dan Soeharto ini sosok inspirasi. Kalau Soeharto dia memberikan kontribusi kepada negara wujud material pembangunan, terlepas dari gaya politiknya," ujar Aidul.
Sementara Gus Dur pahlawan yang lebi pada konteks spiritual kulturalisme. Terlepas dari kontroversi individu, keduanya sosok berpengaruh.
"Meski ada kelemahan dan tidak sempurna layaknya dewa, tapi mereka masing-masing punya karakter kuat, menginspirasi generasi muda bangsa, ini adalah aset," kata dia.
Selain bersatu dalam perbedaan, penggabungan dua tokoh itu berdampak positif pada iklim perpolitikan. Paling tidak mampu meredam kecemburuan elit parpol. "Bisa saja ada segelintir yang mempolitisasi dan memanfaatkan momen untuk kepentingan politis," tandasnya. [ikl/mut]