inovasi portal berita
Minggu, 12 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.8,993.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS

Peneliti Ingatkan Kaitan Kanker dengan Produk Herbal

Headline
istimewa
Oleh:
Senin, 11 Januari 2010 | 15:45 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Pemakaian produk herbal yang populer di masyarakat China, yang salah satunya mengandung asam aristolochic, ternyata ada kaitannya dengan meningkatnya risiko kanker saluran urin.

Hasil studi para ilmuwan di Taiwan menyebutkan, asam aristolochic - masyarakat China mengenalnya dengan nama mu tong - umumnya dapat ditemukan dalam beberapa macam produk herbal yang digunakan oleh masyarakat China untuk pengobatan hepatitis dan eczema.

Sementara, hasil beberapa studi yang lebih dulu telah mengaitkan kanker urhotelial terhadap penggunaan asam aristolochic, hal ini merupakan penelitian pertama untuk melihat apakah kelompok yang sama dapat terjadi antara kanker dan produk herbal yang mengandung asam aristolochic.

Namun dalam sudi baru, para peneliti di Taiwan menganalisis sejarah pengobatan terhadap 4.594 pasien penderita kanker saluran urin dibandingkan dengan mereka yang berjumlah 174.701 orang yang tidak memiliki penyakit tersebut.

Pada sebuah makalah yang dipublikasikan The Journal of The National Cancer Institute, para peneliti mengatakan bahwa mereka yang mengonsumsi mu tong menderita risiko pengembangan kanker saluran urin jauh lebih tinggi dan tingkat risiko semakin tinggi terhadap dosis obat yang diberikan.

"Selain itu juga melarang semua produk yang mengandung sedikit pun asam aristolochic. Kami merekomendasikan untuk melanjutkan pengawasan berbagai macam herbal, termasuk herbal produk China yang kemungkinan dipalsukan dengan asam aristolochic yang terkandung dalam herbal tersebut," katanya.

Terakhir, para pasien yang mempunyai sejarah pernah mengonsumsi asam aristolochic neprophaty atau mengonsumsi mu tong atau fangch sebelum adanya larangan harus selalu dimonitor secara teratur terutama terhadap kanker saluran urin.

Makalah dalam The Journal of The National Institute itu telah diterbitkan oleh Oxford Univeristy Press yang dikutip Reuters. [mor]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.