Minggu, 27 Mei 2012 | 11:49 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Beras dan Gula Tak Masuk FTA ASEAN-China
Headline
istimewa
Oleh:
web - Senin, 11 Januari 2010 | 19:45 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Pemerintah menegaskan beras dan gula tidak masuk dalam komoditas yang diikutkan dalam Free Trade Agreement China-ASEAN atau Perjanjian Perdagangan Bebas China-ASEAN.

Wakil Menteri Pertanian Bayu Krisnamurthi mengatakan, beras dan gula merupakan komoditas pangan yang strategis bagi suatu negara sehingga masuk kategori Special Product (SP) yang dibolehkan oleh Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). "Oleh karena itu, pemerintah akan melakukan kebijakan yang melindungi komoditas tersebut," katanya di Jakarta Senin (11/1).

Menyinggung komoditas pertanian lainnya, Bayu menyatakan, untuk produk perkebunan tidak perlu dikuatirkan karena selama ini Indonesia masih lebih unggul dibandingkan China.

Produk-produk perkebunan Indonesia, tambahnya, bahkan berhasil masuk ke negara tersebut seperti produk minyak sawit mentah (CPO), kopi, teh, karet, bahkan produk olahan seperti ban dan kram rubber.

Bahkan, lanjutnya, neraca perdagangan Indonesia-China di sektor perkebunan selama empat tahun terakhir menunjukkan pertumbuhan yang positif yakni naik dari 800 juta dolar AS menjadi 2,4 miliar dolar AS. "Oleh karena itu sebenarnya CAFTA tak perlu dikuatirkan bahkan bisa menjadi peluang produk kita masuk ke China," katanya. Namun demikian, dia mengakui, untuk produk hortikultura nasional masih harus ditingkatkan daya saingnya.

Sementara itu, untuk melakukan perlindungan terhadap masuknya produk serupa dari negara lain, pemerintah akan menerapkan kebijakan non tarif barrier yakni dengan instrumen Sanitary and Phytosanitary (SPS), keamanan pangan, kehalalan dan biodiversitas.

Menurut Menteri Pertanian Suswono untuk menghadapi CAFTA maka peningkatan ekspor bisa dikhususkan pada produk-produk eksotis atau yang hanya ada di Indonesia dan tidak ada di negara lain. "Termasuk produk perkebunan yang menjadi unggulan ekspor seperti CPO, kakao, karet, ini didorong agar mereka bisa membeli optimal," katanya. Dia mengemukakan, untuk produk buah-buahan seperti jeruk perlu peningkatan daya saing di dalam negeri. "Tantangan terhadap barang sejenis ini yang harus dievaluasi apakah mungkin atau tidak kita tingkatkan dnilai tambah atau daya saing," katanya.

Kalau tidak mungkin ditingkatkan daya saingnya, tambahnya, lebih baik tak terjun produk sejanis tersebut namun lebih baik dialihkan ke komoditas yang lain. [*/hid]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.