BARAT, pihak yang merasa tengah tersudut, selalu menganggap bahwa sikap China akhir-akhir ini sangat sombong.
Sikap itu diperlihatkan para pengamat Barat dalam melihat kemungkinan terjadinya peralihan perimbangan kekuatan ke Timur, khususnya China. Mereka memberikan beberapa contoh tentang bagaimana sikap China yang makin lama makin tak sudi tunduk pada tekanan Barat.
Perilaku China itu diperlihatkan misalnya ketika Ketua Bank Sentral China memunculkan isu untuk mengganti dolar sebagai alat tukar perdagangan internasional. Isu itu langsung ditimpali di Barat sebagai tak praktis karena untuk menciptakan alat tukar baru dalam perdagangan internasional diperlukan proses berbelit.
Dalam dua bulan terakhir ini sikap China yang tak mau tunduk pada pendiktean Barat diperlihatkan pada Konperensi Copenhagen tentang pengurangan emisi untuk mengatasi pemanasan global. Kemudian, dengan tak peduli atas protes dunia internasional (baca: Barat), Beijing menjatuhkan hukuman penjara 11 tahun atas Liu Xiaobo. Dialah pejuang demokrasi yang dengan terang-terangan berani mengritik sistem politik dan pemerintahan di China. Hukuman atas Li dijatuhkan persis pada hari Natal, saat suci untuk umat Kristen.
Langkah terakhir China yang membuat Barat meradang adalah eksekusi atas seorang warga Inggris bernama Akhmail Shaikh. Ia warganegara Inggris yang tertangkap lantaran mencoba menyelundupkan heroin ke China. Eksekusi dilakukan tanpa peduli akan permintaan ampun dari pemerintah Inggris dan keluarga terhukum. Alasan yang dipakai pemerintah Inggris dan keluarga terpidana, Shaikh orang yang mentalnya terganggu dan dia tertipu sindikat internasional untuk menyelundupkan barang haram itu ke China.
Langkah-langkah China itu dianggap para pengamat Barat sebagai sikap arogan dan percaya diri yang kelewat tinggi lantaran posisinya yang makin lama makin kuat. Itu dihubungkan dengan perkembangan ekonomi Beijing yang berada di atas 8% per tahun dalam 25 tahun terakhir ini. Tapi, juga bertentangan dengan propaganda China yang selalu mengumandangkan bahwa kebangkitan China dilandasi maksud damai. Itulah yang dikenal dalam propaganda China di dunia internasional sebagai peaceful rise.
Namun, sebenarnya sikap keras yang diperlihatkan China dalam beberapa bulan terakhir ini hendaknya dilihat dari dimensi politik domestik. China memang makin lama makin menjadi suatu adidaya, baik dalam politik, ekonomi, dan militer. Namun, langkah-langkah yang dilakukan di atas hendaknya dilihat dari dimensi politik domestik.
Malahan boleh dikatakan dia lebih mementingkan politik domestik ketimbang internasional. Sebagai suatu rezim otokrasi dengan demikian ia harus lebih mementingkan keamanan dan ketertiban dalam negeri. Dengan memainkan isu nasionalisme, ia harus memberikan kesan kepada rakyat bahwa ia tak tunduk kepada tekanan internasional.
Di samping itu, pada 2012 yang akan datang Partai Komunis China (PKC) akan melaksanakan pemilihan kepemimpinan baru, bukan saja partai tapi juga negeri. Sekarang saja ancang-ancang untuk perebutan kekuasaan sudah mulai kelihatan walaupun dengan sangat tersamar.
Kepemimpinan dalam PKC dewasa ini tengah diperebutkan antara faksi yang disebut kaum populis versus kaum elitis yang berasal dari propinsi-propinsi pantai. Golongan populis yang dipimpin Presiden RRC/Ketua PKC Hu Jintao dan Perdana Menteri Hu Jintao lebih mendambakan harmonisasi dalam masyarakat agar keamanan, ketertiban, dan posisi PKC sebagai penguasa tunggal, terjamin.
Untuk itu dana-dana besar yang dimiliki pemerintah hendaknya dikucurkan untuk membantu masyarakat yang tak mendapat kesempatan unuk menikmati kemakmuran di alam reformasi ekonomi. Sedangkan kaum elitis berpendapat, yang penting adalah membuat perekonomian China maju dulu. Itu merupakan contoh klasik konflik antara mereka yang ingin membesarkan kue pembangunan dan yang ingin membagi rata kue pembangunan itu.
Akhir-akhir ini golongan elitis banyak menyerang Hu sebagai pemimpin yang tak berani mengambil keputusan dan kurang efektif dalam perekonomian. Untuk melawan kritik itulah pendirian keras terhadap tekanan internasional dan diperlihatkan dengan sikapnya di Copenhagen, hukuman terhadap Liu Xiaobo, dan eksekusi terhadap Shaikh.
Alhasil, apa yang dilakuan China adalah sesuai dengan pemeo pouler, semua politik adalah lokal (all politics are local). Atau teori klasik dalam Ilmu Hubungan internasional, bahwa tingkah laku sebuah negara di pentas internasional ditentukan oleh politik domestiknya.
Penulis adalah pengamat China [mor]