Maka, kira-kira inilah yang akan saya rekomendasikan, setelah seharian ini, Rabu (13/1), saya menyaksikan suasana sidang Pansus Hak Angket Kasus Bank Century yang berlangsung hampir 12 jam, live nasional di tv. Yaitu:
1. Mulai memikirkan dan mungkin secara serius segera membentuk suatu gugus tugas politik. Dengan rencana kerja pertama: menyiapkan diri untuk membentuk partai politik baru, atau minimal segera mencari kendaraan politik untuk mengikuti pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 2014.
Situasi Faktualnya:
Hari ini ada dua arus besar yang berkembang (minimal dari respon publik yang terpantau dari tempat saya bekerja), dimana terjadi grafik signifikan perolehan dukungan antara yang anti-pati dan yang simpati dengan Bu Mulyani, yang sejak pagi harus menghadapi forum politik konstitusional yang terhormat.
Jadi, hari ini, Bu Mulyani telah mendapatkan momentum pencitraan diri. Baik sebagai pejabat yang dituntut pertanggung-jawaban atas keputusan bailout Century, atau sebagai seorang wanita, ibu dari anak-anaknya, yang sedang memegang jabatan publik, dan sepanjang hampir 12 jam lebih harus menjelaskan sebuah peristiwa yang terjadi setahun yang lalu.
Kalau pertunjukan politik ini terus dilakukan, saya meyakini betul, bahwa Pansus Hak Angket Century menjadi anti-klimaks. Percayalah, satu poin telah didapat Bu Mulyani, yaitu simpati publik.
(catatan: jika saya jadi penasehat politik anggota Pansus, saya akan mengubah setting rapat Pansus. Pertimbangannya, ini forum politik dan bukan ruang interograsi pidana yang bisa merenggut hak dasar seseorang. Setiap kejadian, gesture, intonasi, diksi, sangat berimplikasi pada simpati atau antipati publik. Dan itu penting bagi para pemilih).
2. Segera mengganti strategi publikasi, dari yang tadinya berusaha menjelaskan situasi faktual atau situasi literal, atau mungkin kalau ada situasi konspiral, tentang apa yang terjadi terhadap Bank Century, menjadi strategi publikasi yang lebih sentimentil saja.
Rujukannya:
Pemilih Indonesia pada Pilpres 2004, mengalami lonjakan kecenderungan naik spektakuler untuk memilih tokoh yang mengalami pendzoliman dan penganiayaan politik. Suasana pendzoliman itu, ternyata efektif untuk mendulang suara. Juga, efisien secara biaya karena sering tayang di televisi secara nasional dan gratis. Tidak perlu harus pasang iklan!
3. Menjadikan momentum rapat Pansus hari ini, Rabu (13/1), sebagai investasi politik prospektif yang harus terus di-maintenance. Bu Mulyani sudah punya pengalaman birokrasi, terkenal sebagai profesional, track-record lumyan, mulai mendapatkan simpati publik, dan Jawa!
4. Segera mengubah strategi politik, dari adu kalkulasi data moneter, menjadi kalkulasi simpati-empati saja. Dari rangkaian rapat Pansus Hak Angket, tak banyak data dan fakta baru yang dimunculkan. Juga pertanyaan para politisinya, itu-itu saja!
Yang ditunggu kan cuma satu: jatuh atau dijatuhkan!
5. Ini rekomendasi terakhir jika saya jadi penasehat politik Bu Mulyani: bahwa, menggalang dukungan di kalangan sejawat, kolega atau teman satu kantor, kurang efektif. Kalau mau bertahan dalam posisi kenegaraan, digalang saja dukungan seluruh rakyat. Caranya: bongkar saja kasus ini. Titik!
Setelah itu, saya rekomendasikan untuk segera melakukan rekomendasi saya nomor 1 di atas.(*)