INILAH.COM, Jakarta Tingginya harga batubara China di level US$120 dan faktor January effect diperkirakan mendongkrak saham PT Bumi Resources (BUMI), Jumat (15/1). Buy on weakness untuk BUMI. Ukie Jaya Mahendra, Direktur Paramitra Alfa Sekuritas meyakini saham
BUMI hari ini akan menembus level Rp3.000. Salah satunya karena sentimen
January effect masih akan berlanjut sampai akhir bulan. Menurutnya, investor asing tidak akan membeli saham sekaligus dalam sehari.
Asing akan melakukan pembelian secara bertahap atas BUMI. Hari ini Rp100 miliar dan besoknya Rp100 miliar. Demikian juga seterusnya.
BUMI akan mengarah ke level
resistance Rp3.000 dan Rp2.800 sebagai level
support-nya, katanya kepada Ahmad Munjin, wartawan
INILAH.COM, di Jakarta, kemarin.
Pada penutupan perdagangan Kamis (14/1), saham BUMI ditutup menguat Rp75 (2,67%) menjadi Rp2.875 dibandingkan sebelumnya di level Rp2.800. Harga tertingginya Rp2.900 dan terendah Rp2.800. Volume transaksi mencapai 232,4 juta unit saham senilai Rp661,5 miliar dan frekuensi 6.295 kali. Berikut ini wawancara lengkapnya:
Bagaimana Anda memperkirakan pergerakan saham BUMI akhir pekan ini? Saya yakin BUMI akan tembus Rp3.000. Salah satunya karena sentimen
January effect masih akan berlanjut sampai akhir bulan. Investor asing tidak akan membeli saham sekaligus dalam sehari. Asing akan melakukan pembelian secara bertahap. Hari ini 100 miliar dan besoknya 100 miliar. Demikian juga seterusnya.
Karena itu, penguatan saham BUMI akan berlanjut secara bertahap hingga akhir bulan. Pada awal Februari baru bergerak
flat atau bisa saja ditarik naik kembali hingga awal Maret 2010. Pada saat itu baru koreksi. Saya sih yakin seperti itu.
Akan bergerak di kisaran berapa? BUMI akan mengarah ke level
resistance Rp3.000 dan Rp2.800 sebagai level
support-nya.
Bagaimana dengan koreksi harga minyak ke level US$79 per barel
? Tidak akan menjadi sentimen negatif bagi BUMI. Sebab, harga komoditas di regional sudah mulai beranjak naik. Apalagi, pada dasarnya tren pergerakan harga minyak masih berada dalam penguatan. Artinya, koreksi harga minyak saat ini hanya koreksi teknis.
Di sisi lain, harga batubara saat ini meroket seiring tingginya
demand. Pada saat harga kontrak di Newcastle di level US$100, harga kontrak di China mencapai US$120 per metrik ton. Sementara di pasar spot Indonesia masih main di level US$70 per metrik ton. Malah sebagian masih ada yang US$55. Semua itu, sangat positif bagi BUMI.
Sentimen grupnya bagaimana? Pergerakan saham Grup Bakrie
agak kontrarian. Di semester kedua tahun lalu mengalami penurunan dan semester ini merupakan momentumnya penguatan. Tidak selalu segaris lurus dengan sentimen lain, karena sekarang pun sentimennya lagi naik. Pada saat yang sama, untuk BUMI sendiri banyak broker asing yang meng-
upgrade ke level Rp3.800 hingga Rp4.000 di semerter pertama tahun ini.
Bagaimana dengan sentimen dari BUMI yang tengah mempersiapkan rencana penerbitan surat utang US$ 300 juta-US$ 400 juta? Itu sudah terfaktorkan di pasar. Dalam rencana tersebut, BUMI menunjuk Credit Suisse (CS) dan JP Morgan Securities. Dana hasil penerbitan akan digunakan untuk mendukung pembiayaan PT Recapital Advisors dalam mengakuisisi 90% saham PT Berau Coal senilai US$1,52 miliar. Aksi korporasi itu sangat positif namun sudah direspon positif pada perdagangan kemarin.
Meski obligasi itu merupakan utang, tapi karena tujuannya baik, tidak akan berpengaruh negatif pada saham sejuta umat ini. Apalagi, BUMI memiliki karakteristik yang jika beritanya buruk, justru naik. Tapi memang harus diakui dibanding saham pertambangan batubara lainnya, saham BUMI paling berisiko dari sisi rasio utang terhadap ekuitasnya.
Tapi, jika dilihat
demand terhadap emiten ini akan membuatnya bertahan pada posisi penguatan. Apalagi, aksi korporasi ini juga sudah tentu diperhitungkan oleh perseroan dengan matang.
Lantas, apa rekomendasi Anda untuk BUMI?Untuk saat ini karena penguatannya sudah signifikan, saya rekomendasikan
buy on weakness untuk BUMI. [mdr]