Sudah terlalu lama sepak bola nasional 'tidur', dan tidak mempersembahkan prestasi yang membanggakan kepada lebih dari 200 juta penduduk Indonesia.
Prestasi sepak bola Indonesia terakhir kalinya adalah medali emas pada saat Sea Games Manila 1991 (18 tahun yang lalu jek !).
Tidak bisa dipungkiri sepak bola bukan sekedar olah raga, tapi telah berubah menjadi suatu media guna kembali membangkitkan rasa nasionalisme. Ambil contoh bagaimana Korea Utara begitu bangga ketika timnya lolos ke Piala Dunia, dan pemimpin nasional mereka bisa 'sombong' didepan koleganya dari China dengan mengatakan bahwa boleh saja secara ekonomi kalian (China) sangat maju tapi tim sepak bola kami lolos ke Piala Dunia.
Sangat jelas bahwa sepak bola bisa menjadi alat diplomasi guna mempertahankan harga diri bangsa.
Kalau memang PSSI sebagai badan tertinggi yang menauingi persepakbolaan nasional sudah tidak bisa diharapkan bisa meningkatkan prestasi, hendaknya pemerintah melalui kementrian olah raga, men-take over PSSI agar langsung dikendalikan oleh pemerintah, tentunya dengan niatan meningkatkan prestasi sepak bola nasional.
Prestasi bagus tentunya harus dimulai dari kondisi internal, bukan cuma wacanana melainkan tindakan nyata dari para pengurus PSSI, tidak hanya menuntut tiap pertadingan Liga SUper Indonesia (LSI) berjalan Fair Play, tapi mereka (para pengurus PSSI) juga harus berprilaku fair play ! kalau tidak becus yang mundur ! jangan cuma memaksakan diri tanpa rasa malu.
Lupakan dulu asa menjadi tuan rumah Piala Dunia, apalah artinya niatan muluk kalau landasan utamanya (prestasi) tidak pernah tercapai.
Dari pada menghamburkan uang demi impian yang semu, alangkah bijaksananya dana tersebut digunakan untuk mendatangkan pelatih mumpuni guna mengembangkan potensi sepak bola negeri ini yang sebenarnya sangat dasyat.
Landasan yang tepat, pola pembinaan yang berjenjang dengan kualitas pelatih yang baik serta prasarana yang mendukung merupakan instrumen awal yang segera harus dibenahi. Pemerintah harus berperan nyata, kalau perlu dialokasikan anggaran khusus guna meningkatkan prestasi sepak bola nasional.
Yakinlah bahwa masih banyak anak muda negeri ini atau pihak-pihak yang mampu mengurusi PSSI dengan prilaku yang bertanggung jawab dengan dilandasi niatan baik guna mengembalikan harga diri bangsa dipentas sepak bola dunia.
Apa yang dilakukan oleh Hendri Mulyadi nekat memasuki lapangan pada saat pertandingan pra piala Asia antara Indonesia Vs Oman merupakan jawaban akan kekecewaan masyarakat terhadap prestasi PSSI.
Jangan hanya melihat aksi Hendri memasuki lapangan lalu menggiring bola sebagai suatu pelanggaran peraturan, apa yang pemuda asal Bekasi ini lakukan adalah refleksi dari kemarahan dan kekecewaan (sebagian besar rakyat Indonesia) terhadap PSSI yang didasari oleh kecintaan dan kerinduan akan kemajuan sepak bola tanah air.
Dengan sepak bola yang maju berarti kembali menciptakan rasa bangga sebagai bangsa Indonesia dengan memunculkan kembali rasa nasionalisme yang merupakan modal dasar guna membangun segala sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Rifqy Pratama
rifqy1303@yahoo.com