Pernah suatu ketika saya berbincang dengan Rahmawati Soekarnoputri. Di situ, saya mengenal dua istilah tentang anak-anak Soekarno: anak biologis dan anak ideologis.
Bedanya mendasar. Mbak Rahma, waktu itu bilang bahwa dia adalah anak ideologis Soekarno. Saya tanya: apa alasan pembenarnya?
Jawabnya:''Karena saya mengamalkan ajaran Bung Karno. Trisakti. Berdaulat dalam politik, Berdikari dalam ekonomi dan berkepribadian dalam berbudaya.''
Jadi, kalau anak biologis (tentunya) belum tentu mengamalkan ajaran Trisakti. Begitu kira-kira persepsi saya.
Waktu itu, dalam konstalasi politik konstituensi yang mendasarkan proses pemandatan kedaulatan rakyat dari perolehan suara, Mbak Rahma tidak booming. Partai yang dibentuk selanjutnya luruh karena terkena electoral treshold. Sementara, anak Bung Karno yang lain, melejit.
Melalui Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Mbak Mega sempat menjadi Presiden RI. Meski, setelah itu konstituennya berkurang tajam. Sampai kini, Mbak Mega tak jadi presiden, jumlah kursinya di DPR juga melorot.
Seorang pengamat politik, waktu itu cerita pada saya. Bahwa, konstalasi politik Indonesia bergeser. Politik aliran yang berbasis pada tiga ideologi besar: Islam, Nasionalis dan Sosialis, tak lagi laku dijual.
Buktinya: suara PDIP susut. Partai-partai berbasis Islam, menggeser dirinya menjadi partai pluralis. Tak ada yang berani ambil risiko untuk tetap menjual tiga ideologi itu dalam proses konstituante: Pemilu.
Yang muncul adalah ideologi baru. Namanya demokrasi. Ada yang liberal, ada yang konservatif. Ada juga yang masih memakai embel-embel nasionalis. Jadinya: demokrasi-nasionalis. Atau, yang masih tetap mempertahankan faktor keagamaan. Jadinya: demokrasi-religius.
Saya meyakini, 2014 kekuatan ideologi baru ini akan menguat. Ini mengingatkan saya pada pemikiran tokoh Islam Indonesia, Nurcholis Madjid. Saat saya mewawancarainya, setelah terjadi penggulingan Orde Baru 1998, dia pernah bilang:''Indonesia butuh 20 tahun untuk melalui proses reformasi. Setelah itu baru masuk ke tahap demokrasi.''
Jadi, 2014, percampuran ideologi akan tetap menjadi jualan partai-partai: demokrasi-nasionalis, demokrasi-religius, demokrasi-konservatif, demokrasi-liberal atau mungkin demokrasi-pokoknya!
Walhasil, faktor tokoh sebagai personifikasi ideologi akan masih dijual dan menentukan jumlah suara di kekuasaan. Nama-nama seperti Mega, Amien, SBY, atau mungkin tokoh muda seperti Anung, Hatta, Marzuki, Imin, atau juga tokoh alternatif seperti Anas, Ruhut, Pohan, Andi, bisa saja akan tetap mengeksploitasi kombinasi politik aliran dan demokrasi.
Nah, kalau kemudian Guruh Soekarnoputra maju sebagai calon Ketua Umum PDI Perjuangan, bagaimana perjalanan partai ini di 2014?
Saya mulai mempercayai istilah Mbak Rahma tentang anak-anak biologis dan anak-anak ideologis.
Bahwa, trah atau dinasti tak bisa menjanjikan banyak dalam proses politik substansial. Popularitas dan fanatisme buta, pada akhirnya akan tergerus oleh substansi ajaran-ajaran Bung Karno: Berdaulat dalam berpolitik, Berdikari dalam ekonomi, Berkepribadian dalam berbudaya. Merdeka![*]