INILAH.COM, Jakarta Dana perbankan senilai hampir Rp200 triliun membludak di SBI. Bila Bank Indonesia (BI) masih memanjakan sektor ini, laju pertumbuhan ekonomi tahun ini dapat terancam.
Hal ini diungkapkan Purbaya Yudhi Sadewa, Kepala Ekonom Danareksa Research Institute (DRI) dalam perbincangannya dengan INILAH.COM.. Menurutnya, tingginya dana perbankan di Sertifikat Bank Indonesia (SBI) menandakan BI masih banyak menyerap uang dari sistem.
Jika hal ini dibiarkan, secara perlahan akan berdampak buruk pada perekonomian, katanya di Jakarta, Selasa (19/1).
Mengutip data Statistik Perbankan Indonesia, nilai uang bank di SBI per akhir November 2009 lalu mencapai Rp 199,44 triliun, naik 30,95% dari periode yang sama pada 2008 lalu, sebesar Rp 152,30 triliun. Adapun posisi SBI tertinggi selama dua tahun terakhir terjadi pada Februari 2008 dengan jumlah Rp216,53 triliun.
Purbaya menilai, BI saat ini terlalu longgar terhadap perbankan, terindikasi dari pemberian ruang berlebih di SBI, untuk menaruh dana mereka. Perbankan pun dengan sendirinya enggan menyalurkan kredit. Akibatnya, kredit susah tumbuh dan bunga pinjaman sulit turun, ekonomi pun lama-kelamaan akan terganggu,ulasnya.
Dengan suku bunga Indonesia yang jauh lebih tinggi dibandingkan negara tetangga, cost of capital perusahaan domestik pun menjadi lebih mahal. Barang-barang Indonesia susah bersaing, baik di pasar regional maupun dunia.
Padahal, imbuhnya, untuk pertumbuhan ekonomi, Indonesia memerlukan dana untuk kucuran kredit. Ekonomi pun tidak mungkin tumbuh kencang dengan tingkat pertumbuhan kredit yang negatif. Ini akan sangat mengganggu pertumbuhan dari recovery ekonomi yang sedang terjadi. Karena itu, bunga kredit yang lebih rendah, menjadi keharusan, ujarnya.
Purbaya pun meminta BI untuk segera menuntaskan masalah penumpukan dana perbankan di SBI. Salah satu caranya adalah dengan mengurangi outstanding SBI secara perlahan, sambil mencermati imbasnya terhadap penurunan suku bunga dan pertumbuhan kredit.
Sebab, SBI merupakan variable kebijakan yang sepenuhnya dikendalikan BI. SBI bisa berkurang jika memang BI sengaja menguranginya, tukasnya.
Menurutnya, uang yang disimpan di BI harus dipaksa kembali ke sistem. Ini berarti, saat suku bunga acuan (BI Rate) diturunkan, uang harus di-supply oleh BI ke sistem dengan menurunkan outstanding SBI, Bukan mengurangi likuiditas dari sistem, katanya.
Sehingga, ketika perbankan kebanjiran likuiditas, mereka pun terpaksa menyalurkannya ke instrumen invetasi lain, termasuk kredit. Bila banyak bank yang berebut memberikredit, bunga pinjaman pun otomatis akan turun.
Itu adalah monetery policy yang memanfaatkan mekanisme pasar yang selama ini diabaikan oleh BI, urainya. Cara lain jangan dicoba terlebih dahulu, tapi harus fokus pada insentif moneter yang tepat terlebih dahulu.
Menurut Purbaya, besaran dana perbankan di SBI harus diwaspadai BI. Dalam bahasa moneter, keadaan ini menandakan BI terlalu banyak menyerap uang dari sitem sehingga perekonomian akan kekurangan pasokan uang. Akibatnya, bunga perbankan pun tidak turun,ucapnya.
Purbaya sendiri memperkirakan BI rate tahun ini akan stabil di level 6,5%, turun dari 9,5%.
Sementara rata-rata suku bunga bank saat ini masih di level 13-14%. Padahal, dengan BI rate di level 6,5%, seharusnya rata-rata suku bunga pinjaman di level 11,5%. Angka ini dapat menambah daya dorong bagi pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat dibandingkan perkiraan semula 5,5%, paparnya.
Danareksa sendiri memprediksi Indonesia akan tumbuh 6% di 2010. Tapi, jika bunga bank bisa lebih rendah, pertumbuhan Indonesia bisa tumbuh di atas 6%. Itu tidak mustahil terjadi jika didukung dengan kebijakan moneter yang tepat yaitu menambah supply uang ke sistem dengan mengurangi outstanding SBI, pungkasnya. [ast/mdr]