Kekayaan sumber daya alam dan budaya bukan merupakan jaminan bagi sebuah bangsa untuk menjadi yang terdepan dalam perjalanan sejarah peradaban manusia.
Keberhasilan pembangunan bangsa juga sangat bergantung pada kemampuan kita dalam menyatukan berbagai potensi manusia yang dimiliki selama ini.
Pasca reformasi, bangsa kita dihadapkan pada residu-residu permasalahan yang diwariskan pemerintahan sebelumnya. Mulai dari masalah
BLBI, pelanggaran HAM, Kebebasan Pers yang belum diberikan sepenuhnya, keterikatan pada perjanjian pasar bebas, SARA dan sejumlah permasalahan sosial lainnya.
Ironisnya, masyarakat kita saat ini telah terjebak *euphoria *kebebasan untuk melakukan perubahan tanpa disertai kontrol dan pemahaman masalah.
Kata reformasi, reposisi, revitalisasi, 'change', dsb mendadak bermunculan
bak jamur dimusim hujan. Sementara itu, kelompok masyarakat yang mengaku berkomitmen dan menyatakan diri sebagai pejuang perubahanpun pada akhirnya ikut terjebak dalam kebebasan pragmatis dan seringkali salah kaprah serta melukai esensi dari kebebasan itu sendiri.
Sebagai bukti bahwa kebebasan di Indonesia telah salah kaprah, setengah hati dan kental nuansa pragmatisnya, diantaranya adalah masih ada ketidakcocokan antara komitmen kebebasan dan realita kebebasan itu
sendiri.
Peristiwa seperti kasus pelecehan terhadap profesi wartawan dalam memverifikasi berita, saling serang dan baku hantam antar anggota DPR yang disertai makian kasar, kasus pelecehan sexual yang melanda seorang mantan
pejabat, teriakan maling yang ditujukan pada pejabat negara yang belum terbukti bersalah dalam sebuah rapat sakral lembaga tinggi negara dan aksi unjuk rasa yang akhir-akhir ini sering terjadi dengan kecenderungan keberpihakan yang sangat jelas.
Terakhir yang masih hangat dibicarakan adalah perilaku dua orang anggota Pansus Hak Angket Century yang lebih memilih tampil di 'talkshow' sebuah stasiun TV daripada menghadiri rapat Pansus Century.
Tindakan tersebut oleh sebagian kalangan dinilai tidak etis, karena tugas anggota Pansus jelas merupakan tugas khusus. Absennya kedua orang tersebut seolah menghapus pernyataan mereka selama ini terkait komitmen dalam menuntaskan kasus Bank Century. Hal ini seakan mencerminkan bahwa popularitas lebih penting daripada tanggung jawab.
Dengan adanya realitas seperti di atas apakah kita masih sepakat bahwa bangsa kita telah memperoleh kebebasan yang demokratis dan bertanggung jawab ?.
Realitas tersebut menggambarkan bahwa kita belum terbebas dari rasa takut akan praktek-praktek kebebasan yang tidak terkontrol dan
bertanggung jawab. Praktek premanisme masih marak di Indonesia, berapa banyak orang dihakimi tanpa memperhatikan asas presume innocent (praduga tidak bersalah).
Dalam kaitan tersebut, apakah berlebihan jika kita menyamakan kebebasan bertindak tanpa tanggung jawab, memaksakan kehendak dan minus etika adalah sama dengan praktek premanisme ?.
Di dalam sebuah kehidupan berbangsa dan bernegara yang beradab (civilize),
rasa aman merupakan sebuah bentuk filosofi kemerdekaan dari rasa takut.
Seorang filsuf idealis Jerman, Georg Wilhelm Friedrich Hegel pernah mengatakan, Negara Merupakan Organisasi Kesusilaan yang Muncul Sebagai Sintesis dari Kemerdekaan Individual dan Kemerdekaan Universal. Oleh karena itu, apabila masyarakat atau individu masih dihantui perasaan takut dan tidak aman, maka masyarakat tersebut belum memperoleh kemerdekaan yang hakiki.
Untuk memperjuangkan sebuah perubahan menuju arah yang lebih baik, diperlukan juga pemahaman masyarakat untuk memahami motif dan tujuan dari semangat perubahan itu sendiri, dan yang terpenting adalah memahami akar permasalahan yang mendasarinya, terutama unsur manusianya sebagai objek dari
perubahan dalam pembangunan sosial masyarakat.
Ada pepatah Inggris kuno mengatakan People Who are Bad are not Born Bad but Made Bad, and We are, the Society is responsible to that matters....(Manusia buruk tidaklah terlahir buruk, tetapi dibuat buruk dan kita, masyarakat bertanggungjawab atas masalah tersebut).
Reza Budiman
Arcimides Insight Consulting
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !