INILAH.COM, Jakarta Air mata dan isak tangis mengiringi kepergian Michael Dharmawan Ruslim. Tak mengherankan, mengingat perusahaan otomotif ternama Indonesia itu telah kehilangan salah satu putra terbaiknya.
Kamis (21/1) dinihari, jenazah Michael dimakamkan di San Diego Hills, tempat peristirahatan terakhirnya yang berlokasi di Karawang. Sebagai penghormatan terakhir, ia pun ditempatkan di pemakaman muslim kelas terbaik, Gading Life, dengan biaya sekitar 800-900 juta.
Presiden Direktur PT Astra International ini telah berpulang pada usia 56 tahun, di Rumah Sakit Mount Elizabeth Singapura kemarin. Michael wafat pukul 07.08 waktu Singapura atau 06.08 WIB akibat komplikasi diabetes dan ginjal, setelah sebelumnya terserang demam berdarah.
Bagi grup Astra, meninggalnya Michael, merupakan pukulan berat. Terutama karena almarhum dikenal sebagai sosok yang low profile dan dekat dengan karyawan. Kendati tak banyak bicara, ia selalu sharing nilai-nilai dan pengalamannya tentang kehidupan, pekerjaan demi produktifitas kerja.
Hal ini diakui beberapa petinggi negara yang mengenalnya, seperti Menteri Perindustrian MS Hidayat. Menurutnya, Michael adalah sosok profesional sejati, yang memulai karir dari bawah hingga menuju puncak karirnya saat ini. "Karir topnya sekarang menunjukkan dedikasi yang tinggi sebagai manajer yang profesional," ujarnya.
Profesionalisme pria kelahiran Bandung, 29 November 1953 ini juga diakui Menko Perekonomian Hatta Rajasa. Menurutnya, Michael adalah pekerja keras yang profesional dalam segala keputusan bisnisnya.
Sedangkan mantan Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Erry Firmansyah menilai Michael sebagai sosok yang memiliki integritas tinggi dan rendah hati. "Susah mencari orang seperti almarhum," papar Erry.
Michael adalah jebolan dari University of California di Berkeley pada 1976 dengan gelar sarjana Teknik Mesin Industri. Setelah memperoleh gelar Master in Business Administration (MBA) di bidang Finance dan Research dari University of Wisconsin - Madison pada 1978, ia mengawali karier di Citibank Jakarta.
Sejak 1978, ia menjabat sebagai kepala divisi Jakarta Corporate Banking dan pada 1982 menempati posisi kepala divisi Jakarta Investment Banking. Suami dari Trisni Puspitaningtyas dan ayah dari Gisela Deamanda Prasadhistika serta Mayongga Gilang Pragiwaksana ini, akhirnya bergabung dengan Astra pada 1983.
Disini ia dipercaya sebagai asisten GM divisi keuangan Astra International. Posisi ini bertahan hingga 1989, dengan posisi terakhir sebagai GM. Selain itu, Michael juga merangkap jabatan di Astra Financial Services Group (AFSG), dari posisi VP Executive.
Karier Michael terus menanjak. Pada 1991-2002, ia berhasil menjadi member of BOD (board of director) di Astra Internasional. Ia pun dipercaya sebagai Vice President Director (Planning & Strategy, HR, Corp. Legal, and Environment & CSR) Astra International sejak 2002 hingga Mei 2005. Pada masa itu, berbagai jabatan terus dirangkap Michael.
Misalkan saja sejak 1991 hingga kini, ia dipercaya sebagai Astra Internationals (AIs) Director in Charge di Astra Infrastructure Group. Kemudian pada 2002-Mei 2005, ia menempati posisi AIs Director in Charge di Astra, Toyota Group sekaligus in Charge di United Tractors Group. Selain itu, pada 2004-Mei 2005, Michael kembali mendapat kesempatan sebagai AIs Director in Charge di Astra Agro Group.
Kesuksesan Michael menjalankan Astra dan berbagai anak usahanya, akhirnya membawa ia sebagai Presiden Direktur PT Astra International. Jabatan puncak ini diembannya sejak Mei 2005 hingga ia menutup mata. [mdr]