INILAH.COM, Jakarta IHSG pada perdagangan Jumat (23/5) ini berpotensi terimbas aksi ambil untung setelah reli enam hari berturut-turut. Hal ini dipicu harga minyak mentah dunia yang kian 'mengerikan'. Harganya sempat mencapai US$ 135 per barel.
Analis Paramitra Alfa Sekuritas Bimo Haryo mengatakan, IHSG di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini sulit bertahan. Beberapa sentimen negatif global dan domestik akan menekan pergerakan indeks saham.
Indeks pun akan dilanda tekanan profit taking karena investor ingin merealisasi keuntungannya. "Indeks saham saya kira akan bergerak mixed to lower dengan kisaran 2.470-2.520," ujar Bimo.
Menurut Bimo, harga minyak dunia yang Kamis (22/5) sempat bertengger di level US$ 135 per barel menjadi salah satu penyebab. Apalagi, beberapa kalangan memprediksi harga minyak akan terus naik, bahkan sampai ke level US$ 140 per barel dalam pekan ini.
Pada perdagangan kemarin di Singapura, kontrak utama minyak jenis light pengiriman Juli sempat naik hingga US$ 135,04 per barel sebelum akhirnya berada di level US$ 134,87.
Kontrak minyak NYMEX kemarin ditutup naik US$ 4,10 ke level US$ 133,17 per barel. Sementara minyak Brent untuk kontrak Juli meningkat US$ 1,80 ke level US$ 134,50 per barel, memecahkan rekor sebelumnya di US$ 133,34 per barel.
Selain itu, pelaku pasar juga fokus terhadap ancaman inflasi yang sudah di depan mata menjelang kenaikan BBM di kisaran 28,7% dalam waktu dekat. Tingginya inflasi yang mencapai dua digit hingga akhir tahun membuat investor enggan berinvestasi di Indonesia.
Bimo merekomendasi untuk mengoleksi saham berbasis komoditas terkait harga minyak yang tinggi seperti saham sektor tambang dan perkebunan CPO. Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) masih menarik, apalagi kemarin sempat menggerakkan pasar saham sejak awal perdagangan. Indeks yang sebelumnya melemah 300 poin pun ditutup menguat 50 poin.
JP morgan menaikkan target harga emiten BUMI menjadi Rp 10.400 per lembar dengan asumsi harga batubara internasional tetap tinggi. Juga karena rencana Bumi melakukan aksi buy back dengan target harga maksimum Rp 11.600 per lembar.
Saham PGAS hari ini diperkirakan bergerak naik. Hal ini disebabkan rencana stock split yang akan memicu perseroan mengangkat harga PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) ke kisaran Rp 17.000 per lembar. "Sejumlah sekuritas telah menaikkan target harga PGAS," tutur Bimo.
Lebih lanjut, Bimo menyarankan investor mencermati saham second liner yang bagus secara fundamental seperti PT Tunas Baru Lampung Tbk (TBLA) yang valuasinya masih rendah dan PT Indah Kiat Pulp and Paper Tbk (INKP).
Harga kertas di pasaran yang tinggi dan rencana anak usaha INKP listing di bursa China diperkirakan meningkatkan nilai sahamnya. Oleh karena itu, pemilik mayoritas Indah Kiat berencana mengumpulkan saham yang ada di investor ritel sebagai antisipasi kenaikan ini.
"Investor ritel dipancing untuk melepas saham INKP karena mayoritas pemilik punya kepentingan menambah kepemilikan sahamnya," ujar Bimo.
IHSG pada perdagangan Kamis (22/5) ditutup menguat 9,243 poin (0,37%) ke level 2.503,952 dipicu saham tambang dan telekomunikasi. Sebutlah saham sektor batubara, terutama BUMI dan saham second liner seperti INKP dan BRPT.
Jumlah transaksi di BEI mencapai 86.720 kali dengan volume 4,631 miliar lembar saham senilai Rp 6,389 triliun. Tercatat 107 saham naik, 106 saham turun, dan 56 saham stagnan.
Saham-saham yang ditutup menguat, antara lain, INKP yang naik Rp 700 ke Rp 3.000, PT Timah Tbk (TINS) menguat Rp 600 ke Rp 36.250, PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) terangkat Rp 450 ke Rp 30.950, dan PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA) naik Rp 400 ke Rp 11.950.
Demikian pula saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) naik Rp 360 ke Rp 2.230, PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) Rp 350 ke posisi Rp 26.700, PT Telkom Tbk (TLKM) naik Rp 100 ke Rp 8.650, dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) naik Rp 50 ke Rp 8.300.
Saham-saham yang turun, antara lain, PT Astra International Tbk (ASII) turun Rp 600 ke posisi Rp 21.150, PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR) turun Rp 300 ke posisi Rp 5.250, PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun Rp 250 ke posisi Rp 12.250, dan Aneka Tambang (ANTM) turun Rp 100 menjadi Rp 3.600.
Bursa kawasan pada perdagangan kemarin ditutup bervariasi. Indeks Hang Seng di bursa Hong Kong melemah 417,17 poin (1,64%) jadi 25.043,12, Kospi Seoul turun 0,65% jadi 1.835,42 poin, dan indeks Shanghai turun 1,65%, indeks STI Singapura turun 1,12%. Indeks Taiwan turun 0,08% dan Nikkei naik 52,16 poin jadi 13.978,46. [E1/I3]