INILAH.COM, Jakarta - Meski namanya lebih dikenal sebagai komedian dalam acara Extravaganza, namun Ronald mengaku ia sebenarnya musisi asli. Ia menegaskan hal itu terkait rencana merilis album rekaman.
Pria berambut kribo itu membantah kalau ia merilis album memanfaatkan aji mumpung karena ketenaran namanya belakangan ini. "Sebenarnya, jauh sebelum saya main komedi, saya adalah musisi," tegasnya.
Menurut pria asal Bandung ini, sejak SMA ia sudah kerap manggung bersama band terakhirnya, Golok Cinta. "Kebetulan pintu televisi yang terbuka lebih dulu, saya dapat kesempatan main di Extravaganza. Masa saya tidak terima?" kata mantan penyiar di sebuah radio di Bandung itu.
Album yang tengah digarap lelaki bernama lengkap Ronald Surapradja ini, diberi tajuk Ronaldisko. Sebab jenis musik yang ia pilih adalah disko bernuansa 1980-an.
Kok tiba-tiba ada keinginan membuat album?
Wah, salah Anda. Bukan tiba-tiba kok. Saya mempersiapkan album ini sudah sejak satu setengah tahun lalu. Lagipula, sebenarnya dunia musik sudah duluan saya geluti, ketimbang dunia televisi atau komedian. Tapi karena, dapat tawarannya lebih dahulu di televisi ya saya jalani saja dahulu. Masa rezeki ditolak, sih? Nggak baik, kan? Hehehe.
Tetapi bukan berarti dunia musik saya tinggalkan. Di sela waktu senggang, saya tetap main musik bersama teman-teman. Jadi, memang bukan tiba-tiba saya membuat album ini. Melainkan sudah ada rencana matang.
Produksi album ini adalah hasil tabungan saya selama mendapatkan rezeki dari televisi. Hampir tiga tahun saya menabung, baru sekarang terkumpul uangnya untuk bikin album.
Untuk menghemat maka album ini semua saya kerjakan sendiri. Jadi di sini saya yang jadi eksekutif produser, produser, penulis lagu, sekaligus penyanyinya. Kerja borongan. Hahaha.
Kok album Anda menamakan Ronaldisko?
Itu menunjukkan bahwa musik yang akan saya bawakan adalah musik era 1980-an, meski bernuansa kekinian atau modern. Disko kan musik yang amat disukai kalangan muda di era 1980-an.
Saya besar pada 1980-an dan sangat mencintai jenis musik ini, jadi saya tertarik bikin album dengan musik seperti itu. Tapi kemasannya tetap modern, agar dapat menyesuaikan dengan anak-anak sekarang.
Musik, menurut saya, hanya ada tiga, yaitu pop, etnik, dan klasik. Jadi disko sebenarnya masuk kategori musik pop, mungkin yang membedakan hanya ketukannya saja. Tetapi kalau disimak album saya itu, memang akan ada beraneka ragam warna musik.
Tetapi, dasarnya ya musik era 1980-an. Ada warna Duran Duran, David Bowie, dll. Yah dengar saja deh nanti kalau sudah keluar albumnya. Pasti bagus. Hehehe.
Di album PAS Band terbaru, Anda sempat jadi bintang tamu?
Kebetulan PAS Band itu adalah band idola saya semasa di SMA. Nah, makanya kaget juga ketika ditawari menjadi bintang tamu di album mereka. Impian jadi kenyataan. Bisa rekaman bersama mereka. Tetapi, tidak hanya sekadar rekaman, saya juga belajar banyak pada mereka mengenai seluk-beluk dunia musik. Enaknya, meski mereka senior tetapi tidak pelit membagi ilmu kepada yunior.
Saya banyak belejar. Mereka juga yang memberi saya semangat untuk cepat-cepat merilis album.
Saya sekarang tahu juga kalau dalam memasarkan album, bukan sekadar melihat materi yang bagus, tetapi juga promosinya. Materi sebagus apapaun kalau promosinya tidak ada, ya tidak akan dikenal tuh. Makanya, sekarang ini saya sedang sibuk 'bergerilya' mempromosikan single yang ada di album saya ke radio-radio.
Siapa saja yang membantu Anda membuat album ini?
Album perdana yang terdiri dari sembilan lagu dan dibantu oleh DJ M serta Indra Lesmana. Sejauh ini orang-orang yang sudah mendengarnya suka, karena lagunya lucu dan enak, kalau manggung sambutannya besar. Alhamdulillah, akhir bulan ini saya akan bikin video klip. Saya berharap album saya ini dapat diterima dan diapresiasi dengan baik oleh masyarakat. Apalagi mereka merasa akhir-akhir ini jenis musik, tema, notasi dan konsep yang digunakan musisi Indonesia hampir serupa. Semoga kehadiran album saya dapat menyemarakan musik Indonesia.
Banyak penyanyi dan band lain menunda merilis album karena pembajakan....
Wah soal pembajakan, dari dulu nggak pernah tuntas-tuntas. Kalau saya terus menunggu, lantas kapan album saya diluncurkan?
Saya pasrah saja deh sekarang, mau dibajak ya bajaklah. Padahal membajak itu mbok ya yang positif gitu, membajak sawah, memberi manfaat kepada orang lain. Membajak kaset atau album kan tidak ada manfaatnya, malah merugikan orang. Hai pembajak sadarlah. Hahaha.
Enak mana dunia musik atau televisi?
Kalau sampai sekarang, ya masih enak dunia televisi. Karena saya masih dapat uang banyak dari sana. Musik saat ini hanya untuk menyalurkan hobi saja. Tetapi, kalau album ini laku, tawaran manggung banyak dan di mana-mana, bisa saja saya lebih memilih dunia musik. Tetapi sampai sekarang masih milih yang mendatangkan duit saja dulu. Hehehe. [L1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !