INILAH.COM, Jakarta - Keputusan pemerintah menerbitkan Surat Utang Negara tahun ini senilai Rp175 triliun membuat roda perekonomian sama persis seperti tahun 2009.
Demikian dikatakan Ekonom ECONIT, Hendri Saparini saat ditemui di Gedung DPR, RI, Jakarta (21/1). "Ini persis seperti tahun 2009," kata dia.
Penerbitan SUN, lanjutnya, akan membuat perekonomian nasional ditopang ekonomi utang berbunga tinggi dan hot money, barang-barang komoditi. Kebijakan tersebut juga akan menyebabkan produksi barang-barang nasional menurun. Hal itu juga akan mempengaruhi cadangan devisa. "Gimana caranya menjaga devisa, kalau ekspor kita tidak kompetitif," ujar dia.
Hendri melanjutkan, dengan terganggunya cadangan devisa, maka hot money akan banyak terjadi. Untuk mengatasi masalah tersebut, kata dia, langkah adalah membuat sektor sedikit longgar agar nilai tukarnya lebih lemah. Jika nilai tukar lemah maka akan menghambat impor. "Jadi walaupun ada banjir dari China tetapi itu akan tertahan dengan nilai tukar dari yang melemah itu satu," kata dia.
Langkah kedua, lanjutnya dengan dengan memprioritaskan pembelian barang model dan produk dalam negeri. "Pemerintah sekarang lebih mengutamakan stabilitas makro, padahal itu bukan menggambarkan sektor riil bergerak," tukas dia. [hid]