INILAH.COM, Jakarta - Emilia Contesa mencalonkan diri jadi Bupati Banyuwangi Jawa Timur. Larangan dari anak dan suami pun tak digubrisnya. Ia pun siap memajukan Banyuwangi, kota kelahirannya.
Lebih jauh, berikut ini wawancara singkat INILAH.COM dengannya, di Jakarta, Jumat (22/1) malam.
Apa betul mau jadi calon bupati?
Ya, bisa dibilang ingin beradu nasib di kota kelahiran saya, Banyuwangi. Ada beberapa anggota masyarakat yang meminta saya menjadi bupati di Banyuwangi. Saya ingin cerita ke belakang sebentar. Saat ibu Megawati jadi Presiden, saya dipanggil oleh Bapak Agum Gumelar. Saat itu beliau menjabat sebagai Menteri Perhubungan, waktu itu saya dibawa ke ibu untuk menjadi bupati di tanah kelahiran saya. Namun karena pada saat itu belum ada panggilan dari hati, oleh karena itu saya menolak.
Wow, seperti itukah?
Padahal saat itu merupakan pintu besar buat saya untuk menjadi penguasa kekuasaan serta memperhatikan kepentingan rakyat banyak. Namun dengan rasa tidak mampu maka saya menolak. Tapi sekarang setelah saya melihat, saya ingin membenahi daerah Banyuwangi. Soalnya, saya mendengar ada banyak masalah yang harus ditangani.
Seperti apa saja masalahnya?
Yang pertama banyak tukang sampah yang tidak dibayar pihak Pemda. Kedua banyak demo buruh yang selalu berkelanjutan sampai sekarang. Ketiga banyak uang lauk-pauk buruh yang tidak dibayar. Jadi dengan hal-hal seperti itu saya merasa terpanggil. Saya ingin membenahi.
Kenapa Banyuwangi?
Seperti yang sudah saya bilang, Banyuwangi adalah tanah tumpah darah saya, tempat lahir saya dan seluruh keluarga saya berasal dari Banyuwangi. Bagi saya, selain tiga hal tadi ada yang saya ingin kembangkan.
Pertama, Banyuwangi adalah kota kedua penghasil ikan terbesar setelah Bagansiapi-api. Untuk usaha besar itu, masyarakat Banyuwangi membutuhkan lahan lebih baik, karena mereka butuh investor dan perhatian khusus.
Kedua, Banyuwangi juga menghasil rumput laut terbesar, dan itu kurang diperhatikan oleh pejabat sekarang.
Ilmu politik dan pemerintahannya dari mana?
Jadi bupati, presiden atau menteri sekalipun bukan bekerja sendiri tapi lebih kolektif, punya staf ahli yang artinya bukan kerja sendiri. Kita harus pahami dulu apa yang masyarakat Banyuwangi keluhkan dan butuhkan. Saya juga akan mengurus sekolah dan pendidikan secara gratis. Begitu pula kesehatan.
Diusung partai apa?
Saya belum jelas, tapi pastinya saya mendaftar ke PDIP. Baru akhir Febuari akan keluar rekomendasinya, karena pertengahan Maret KPU baru akan membuka pendaftaran. Sebab saya harus menjadi diri sendiri dan populer serta belajar dari bawah.
Bagaimana dengan keluarga?
Sangat mendukung, kecuali Denada dan suami saya. Denada pernah bilang pada saya seperti ini, mama umurnya sudah lebih dari 25 tahun mama sudah saatnya mencari kebahagiaan, bukan lagi memikirkan diri sendiri. Mama buat apa jadi bupati, mama nanti nggak bahagia. Seharusnya mama bersama suami baru bahagia'.
Bagi saya itu benar, tapi bagi saya arti kebahagiaan adalah berarti lain karena saya ingin membahagiakan orang lain juga. Saya juga ingin menjaga nama saya dan saya ingin meninggal dalam keadaan terhormat.
Untuk Banyuwangi pemimpin pertama perempuan bukan?
Kalau terpilih, saya perempuan kedua setelah bupati sebelumnya. Dari segi kyai atau ulama memang yang diinginkan laki-laki, tetapi kan sudah ada contohnya.
Ada berapa calon?
Banyak tapi sementara ini baru tiga yang mencalonkan. Saya ingin siapapun yang menjadi pasangan saya harus bisa bekerja sama, tapi sementara ini saya masih melirik-lirik. Pastinya saya bersedia berkoalisi dengan siapa pun asalkan tidak ada yang berbau korupsi, karena itu sudah harga mati buat saya. Saya ingin punya pasangan yang punya hati amanah, sama pasangan saya tidak mencuri uang rakyat. [aji/mor]