INILAH. COM, Jakarta - Bank Indonesia (BI) diharapkan mengelompokan bank-bank terlebih dahulu, sebelum menerapkan benchmarking.
Demikian dikatakan, Wakil Direktur Utama PT. Bank Central Asia (BCA), Jahja Setiadmadja, pekan ini di Jakarta. "Jangan dipukul rata, perlu ada pengelompokan," kata dia.
Ia menuturkan, antara bank yang ekspansif dan bank tidak ekspansif mempunyai jumlah pengeluaran berbeda. Dengan penambahan cabang dan anjungan Auotomathic Teller Machine (ATM) secara rutin, maka pengeluaran bank ekspansif jauh akan lebih besar.
Selain itu, kata dia, faktor lain yang juga harus dipertimbangkan dalam pengelompokan perbankan adalah struktur dana. Pengeluaran bank dengan struktur pendanaan tabungan akan jauh lebih besar dari pada bank dengan struktur pendanaan deposito. "Bank dengan struktur pendanaan tabungan, strukturnya lebih besar. Pasalnya bank tersebut juga harus menyediakan uang tunai untuk transaksi tiap harinya," ujarnya.
Lebih lanjut Jahja mengatakan, untuk mencapai efiensi seperti yang diharapkan, industri perbankan harus mengikuti arahan yang diberikan BI. "Jika lebih dari itu berarti tidak efisien," kata dia.
Seperti diketahui, untuk memaksimumkan efisiensi perbankan, BI akan melakukan bench marking terhadap biaya dana untuk kredit, biaya overhead, premi, resiko dan margin keuntungan dengan demikian bank dapat mencari area-area yang dapat ditingkatkan efisensinya guna mendorong penetapan suku bunga kredit yang wajar. Ini semua dilakukan dengan tetap mengedepankan prinsip-prinsip kewajaran pasar. [mre/hid]