INILAH.COM, Jakarta Saham PT Bumi Resources (BUMI), Senin (25/1) diprediksikan melanjutkan pelemahan. Salah satunya karena koreksi harga minyak dunia ke level US$74 per barel. Hold untuk BUMI!Ukie Jaya Mahendra, Direktur Paramitra Alfa Securities mengatakan, potensi pelemahan saham
BUMI hari ini
in line dengan penutupan indeks regional pekan lalu yang mengalami koreksi. Karena itu, sentimen market akan menggiring saham sejuta umat ini ke teritori negatif.
Selain itu, pelemahan harga minyak mentah dunia ke level US$74 per barel

juga turut membuat saham batubara
thermal tertekan. Karena itu,
BUMI akan mengarah dan menguji level
support Rp.2.500 dan level Rp2.675 sebagai
resistance-nya, katanya kepada
INILAH.COM, di Jakarta, Minggu (24/1).
Pada perdagangan Jumat (22/1) saham BUMI ditutup melemah Rp50 (1,83%) menjadi Rp2.675 dibandingkan sebelumnya di level Rp2.725. Harga tertingginya mencapai Rp2.675 dan terendahnya Rp2.575. Volume transaksi mencapai 353,9 juta unit saham senilai Rp926,3 miliar dan frekuensi 8.726 kali.
Lebih jauh Ukie mengatakan tren pergerakan saham saat ini, sedang berada dalam koreksi sementara. Hal ini dipicu likuiditas di pasar yang secara perlahan mulai ditarik dari market sehingga terjadi
capital outflow.
Koreksi ini salah satunya masih terkait rencana Presiden Obama yang akan membatasi perbankan menempatkan dananya di
hedge fund maupun
private equity funds, ujarnya.
Selain itu, pasar juga saat ini belum terlalu percaya terhadap pemulihan ekonomi. Pasar melihat kondisi ketatnya likuiditas, serta data-data yang dirilis di AS dan Eropa belum terlalu kuat menopang pemulihan ekonomi yang
sustainable. Karena itulah pergerakan indeks dan BUMI akan
inline dengan market regional, paparnya.
Ukie kembali mengatakan, peralihan dari saham dan komoditas ke dolar AS hanya bersifat sementara, sehat dan normal. Ia memperkirakan akan berlangsung hingga akhir Januari, baru kemudian BUMI dan indeks akan koreksi. Pada Februari baru bisa
refresh setelah itu baru bisa naik kembali, imbuhnya.
Tren koreksi ini, akan terus terjadi hingga mencapai level
support kuat di level Rp2.125 untuk BUMI sebelum tembus ke level Rp2.000 per lembar. Aksi korporasi apapun dari BUMI tidak akan berpengaruh positif ke BUMI. Terlalu berat bagi BUMI untuk melawan arus, timpalnya.
Tapi, dari sisi harga batubara, saham BUMI seharusnya bergerak positif. Sebab, permintaan batubara saat ini justru tinggi. Harga batubara di Newcastle berada di level US$85-90 per metrik ton dari sebelumnya sempat di level US$102, seharusnya masih positif bagi BUMI.
Begitu juga jika dari sisi valuasi, IHSG sebenarnya masih rendah dibandingkan indeks regional. Begitu juga dengan BUMI sehingga masih memiliki ruang menguat. Dari sisi ini, BUMI berpotensi menguat karena masih kompetitif.
Artinya, tidak sepenuhnya benar, alasan valuasi indeks yang tinggi menjadi salah satu alasan koreksi. Tapi, untuk saat ini sangat berat bagi BUMI melawan arus koreksi indeks, tuturnya.
Ukie merekomendasikan
hold sementara untuk BUMI. Baru
buy on weakness jika BUMI menembus level
support-nya di Rp2.500, pungkasnya. [mdr]