Senin, 28 Mei 2012 | 21:08 WIB
Follow Us: Facebook twitter
PPP: Kemungkinan Impeachment Ada
Headline
inilah.com/Dokumen
Oleh: Laela Zahra
web - Senin, 25 Januari 2010 | 06:48 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Hasil survei Indo Barometer menyebutkan, 32,6% respondennya menyatakan kasus Bank Century, bisa memakzulkan Wapres Boediono. Hasil survei itu dinilai Pansus Century bisa saja terjadi.

Demikian dikatakan Anggota Pansus Hak Angket Bank Century, dari Fraksi PPP Roma Hurmuzy kepada INILAH.COM, Senin (25/1). "Saya tidak ingin memprediksi arah pansus, tapi kemungkinan itu ada," ujarnya.

Indo Barometer, Minggu (24/1), memaparkan hasil surveinya yang menyebutkan, 21,5% respondennya menyatakan kasus Bank Century menjadi alasan pemakzulan SBY. 36,8% menyatakan kasus tersebut tidak bisa memakzulkan SBY, 32,6% menyatakan kasus Bank Century bisa memakzulkan Wapres Boediono, dan 26% responden lainnya menyatakan, kasus bank tersebut tidak bisa memakzulkan Boediono.

Menurut pria yang akrab dipanggil Romi ini, hasil survei paparan tersebut menunjukkan adanya ambigu dari masyarakat terhadap penyelesaian masalah Bank Century. Meskipun sekian persen masyarakat berpendapat, Boediono bisa dimakzulkan, namun sebagian besar masyarakat tidak menyuarakan demikian.

"Dengan angka itu berarti masyarakat dalam posisi yang ambigu, mereka belum teryakinkan penuh pemakzulan terhadap Wapres dalam kasus ini," jelasnya.

Namun Romi sependapat terhadap hasil survei yang menyebutkan, 36,8% responden menyatakan SBY tidak dapat dimakzulkan, dengan kasus Bank Century. "Kalau untuk SBY, saat pengambilan keputusan bailout dia tidak berada di Indonesia, dia melimpahkan kepada Wapresnya saat itu, JK," ujarnya.

Sedangkan Boediono, sambungnya, saat pengambilan kebijakan terhadap Bank Century posisinya sebagai Gubernur BI, yang memutuskan FPJP. "Dalam pemeriksaan Pansus, terlihat Pak Boediono lebih terbata-bata memberikan keterangan, ketimbang Sri Mulyani," ujarnya.

Meski begitu, hasil survei hanyalah pendapat masyarakat terhadap penyelesaian masalah Bank Century. Kesimpulan hasil kerja Pansus tidak bisa dipengaruhi melalui paparan survei.

"Bisa saja Pansus tidak memakzulkan siapa-siapa dari 2 orang itu (Presiden dan wakilnya), tapi bisa saja sebaliknya. Semua kemungkinan masih terbuka, mungkin juga menjadi poin rekomendasi kami untuk menyatakan salah satu pejabat harus bertanggung jawab, tapi keputusan menghentikan pejabat itu hak prerogatif presiden," tutupnya. [bar]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
1 Komentar
citra putri
Senin, 25 Januari 2010 | 10:29 WIB
gak perlu kagetlah..." semua pertanyaan pansus hanya mencecar dan cari kesalahan yg lalu" , tidak ada pertanyaan materi solusi penyelesaian ke depannya bgmn ? ex , cara kordinasi penarikan aset, bagaimana membuat bank mutiara sehat & menguntungkan, kiat kiat bailout jgn sampai terjadi lagi ........ khan semuanya sdh terjadi (yg salah sdh pasti dihukum) tetapi yg terpenting jgn menoleh kebelakang terus ..yah ketinggalan ide & pemikiran., kapan majunya.............cari solusi (positif thingking yg kreatif) satu lagi yg perlu diingat ... bgmn Sri Mulyani memberi pelajaran (jawaban) ke semua anggota pansus dengan Materi Profesional, Ber etika, & Berbobot , !! lihat ekspresi anggota pansus ketika diajari oleh SM.....Pansus T.K.O endingnya pasti sandiwara dagang sapi...hehehehe cape cape interogasi eh VOTING ..dagelan ... tinggal pilih deh mo tetap di kabinet (gizi bertambah) apa berkoar koar mengatasnamakan masyarakat yg mana Mr X ?? - Lapindo aj terlupakan yg jelas jelas di dpn mata... belum lagi BLBI 1 & II wkwkwkakakkaak Typical selalu menganggap masyarakat itu bodoh gak tahu ...jadi kecian sm DPR ..... akhirnya Benar juga kata Gus Dur...hehhehe
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.