INILAH.COM, Jakarta Saham PT Bumi Resources (BUMI), Senin (25/1) diprediksikan melanjutkan pelemahan. Susutnya likuiditas di pasar menjadi salah satu pemicunya. Hold untuk BUMI!Ukie Jaya Mahendra, Direktur Paramitra Alfa Securities mengatakan salah satu faktor koreksi saham
BUMI hari ini adalah susutnya likuiditas di pasar. Menurutnya, secara perlahan dana mulai ditarik dari market sehingga terjadi
capital outflow.
Hal ini bisa dilihat dari
net sell asing senilai Rp1,46 triliun pekan lalu. Karena itu,
BUMI akan mengarah dan menguji level
support Rp.2.500 dan level Rp2.675 sebagai
resistance-nya, katanya kepada Ahmad Munjin dari
INILAH.COM, di Jakarta.
Pada perdagangan Jumat (22/1) saham BUMI ditutup melemah Rp50 (1,83%) menjadi Rp2.675, dengan intraday Rp2.675 dan Rp2.575. Volume transaksi mencapai 353,9 juta unit saham, senilai Rp926,3 miliar dan frekuensi 8.726 kali. Berikut wawancara lengkapnya.
Setelah tiga hari terkoreksi, apakah ada potensi rebound bagi BUMI awal pekan ini? Untuk saat ini belum ada potensi kenaikan. Sebab, pergerakan saham
BUMI akan
in line dengan penutupan indeks regional pekan lalu yang terkoreksi. Karena itu, sentimen market akan menggiring saham ini ke teritori negatif. Selain itu, pelemahan harga minyak mentah dunia ke level US$74 per barel

juga turut membuat BUMI tertekan.
Apakah koreksi ini juga didukung sentimen market eksternal? Tren pergerakan saham saat ini memang berada dalam koreksi sementara. Hal ini dipicu likuiditas di pasar yang secara perlahan mulai ditarik dari market, sehingga terjadi
capital outflow berupa net sell asing senilai Rp1,46 triliun pekan lalu.
Ini salah satunya sebagai respon terhadap rencana Presiden Obama yang akan membatasi perbankan untuk menempatkan dana spekulatifnya di
hedge fund maupun
private equity funds.
Selain itu, pasar juga saat ini belum terlalu percaya terhadap pemulihan ekonomi. Pasar melihat kondisi ketatnya likudiitas, data-data AS yang dirilis dan Eropa belum terlalu kuat menopang pemulihan ekonomi yang
sustainable. Karena itulah pergerakan indeks dan BUMI akan
inline dengan market regional.
Sampai kapan tren koreksi BUMI akan terjadi?Peralihan dari saham dan komoditas ke dolar AS hanya bersifat sementara. Ini merupakan koreksi sehat dan normal. Saya perkirakan BUMI dan indeks akan koreksi hingga akhir Januari. Pada Februari baru bisa
refresh , dan setelah itu juga baru bisa naik kembali.
Sampai level berapa, BUMI akan koreksi dan kemudian reversal naik kembali?Tren koreksi BUMI akan terus terjadi hingga mencapai level
support kuat di level Rp2.125, sebelum tembus ke level Rp2.000 per lembar saham. Karena itu, aksi korporasi apapun dari BUMI tidak akan berpengaruh positif ke BUMI. Terlalu berat bagi saham ini untuk melawan arus.
Harga batubara sendiri bagaimana pengaruhnya terhadap BUMI?Dari sisi harga batubara, saham BUMI seharusnya bergerak positif. Sebab, permintaan batu bara saat ini justru tinggi. Meski saat ini harga batubara di Newcastle berada di level US$85-90 per metrik ton dari sebelumnya sempat di level US$102, seharusnya masih positif bagi BUMI.
Dari sisi valuasi?Begitu juga jika dilihat dari sisi valuasi. IHSG pun sebenarnya masih rendah jika dibandingkan dengan indeks regional. Begitu juga dengan BUMI sehingga masih memiliki ruang menguat. Karena itu, dari sisi ini BUMI pun masih berpotensi menguat karena masih kompetitif. Artinya, tidak sepenuhnya benar, alasan valuasi indeks yang tinggi menjadi salah satu alasan koreksi.
Tapi, untuk saat ini sangat berat bagi BUMI melawan arus koreksi indeks.
Lantas, apa rekomendasi Anda untuk BUMI?Saya rekomendasikan
hold sementara untuk BUMI. Baru
buy on weakness jika BUMI menembus level
support-nya di Rp2.500. [jin/ast]