INILAH.COM, Jakarta - Mahasiswa Universitas Nasional (UNAS) nekad menjahit mulut. Dalam aksi ini mereka menuntut Presiden SBY dan Wapres Boediono turun dari jabatan.
"Kami membuat posko mogok makan dan jahit mulut ini sebagai bentuk solidaritas kami sebagai mahasiswa kepada korban dari kebijakan pemerintah SBY-Boediono yang tidak pro rakyat yang tertindas, maka kami menginginkan rezim SBY-Boediono turun," ujar Koordinator aksi UNAS Ponco Sulaksono di Jakarta, Senin (25/1).
Aksi yang banyak menyita perhatian ini, dilakukan oleh tiga mahasiswa yang nekad menjahit mulutnya. Aksi ini sudah diketahui rektorat, namun tidak ada respon hingga saat ini.
Dalam aksinya, kata Ponco mereka menuntu pemerintah segera menyelesaikan kisruh skandal Bank Century. Mereka menyebutkan berbagai kasus yang dianggapnya tidak pro rakyat seperti korban lumpur Sidoarjo yang belum mendapat ganti rugi penuh dari pemerintah.
"Banyak kasus seperti kasus Lapindo yang masih berlarut-larut, dimana uang ganti rugi Rp 1,7 triliun belum terealisasikan ke masyarakat yang terkena imbas luapan lumpur Lapindo dan juga penyelewengan dana
Century sebesar Rp 6,7 triliun," ujar Ponco.
Ia belum memastikan kapan aksi jahit mulut ini akan berakhir. Namun ia mengungkapkan adanya kemungkinan bertambahnya jumlah mahasiswa yang akan mengikuti rekannya dalam aksi ini.
"Belum bisa dipastikan kapan aksi ini akan selesai. Tapi kemungkinan akan bertambah rekan kami yang akan mengikuti aksi jahit mulut ini. Kita lihat saja nanti," pungkasnya. [ikl]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !