INIILAH.COM, Jakarta - PT Indosat Tbk rencananya akan menerbitkan obligasi untuk belanja modal dan membayar utang yang jatuh tempo pada Oktober dan November tahun ini.
Menurut sebuah sumber, rencana ini sejalan dengan niat perseroan untuk mempertahankan posisi terbesar kedua di pasar seluler di Indonesia, demikian dikutip dari harian Bisnis Indonesia, Senin (25/1). Pada hari ini perseroan akan mengundang penjamin emisi. "Bank investasi asing (calon penjamin emisi yang diundang Senin ini dijadwalkan menyampaikan proposal mengenai emisi obligasi dolar tersebut. Dalam terms of reference, Indosat tidak memberikan target indikatif nilai surat utang itu," ujarnya.
Beberapa bank investasi yang diundang oleh Indosat seperti Barclays Capital, Citi, Credit Suisse, Deutsche Bank, ING, JP Morgan Securities, Nomura Securities, RBS, dan Standard Chartered Bank.
Berdasarkan riset PT Danareksa Sekuritas yang terbit pada 22 Januari, capex Indosat diperkirakan US$600 juta-US$700 juta atau setara dengan Rp5,52 triliun-Rp6,44 triliun pada tahun ini. Obligasi Indosat yang jatuh tempo pada Oktober dan November tahun ini mencapai Rp640 miliar dan US$234,75 juta atau totalnya setara dengan Rp2,84 triliun, sehingga total kebutuhan capex dan obligasi yang jatuh tempo mencapai Rp9,28 triliun.
Kas dan setara dengan kas Indosat pada akhir September 2009 mencapai Rp2,24 triliun. Berarti Indosat memerlukan pembiayaan eksternal Rp7,04 triliun.
Presiden Direktur Indosat Harry Sasongko Tirtotjondro ketika dikonfirmasi mengenai rencana emisi obligasi itu tidak bersedia berkomentar mengenai rumor pasar atau spekulasi. "Kami akan mengumumkan informasi material kepada publik sesuai dengan aturan pasar modal," tuturnya melalui surat elektronik pekan lalu.
Analis Danareksa Chandra S. Pasaribu, dalam riset itu, mengungkapkan Indosat mengklaim kinerja pada kuartal IV tahun lalu cukup bagus setelah menghadapi persaingan sengit pada awal tahun.
"Meski tidak secara resmi memberikan data jumlah pelanggan, Indosat mengklaim bisa mencapai di atas 30 juta pelanggan pada akhir 2009 setelah membersihkan jumlah pelanggan bertipe calling card (pengguna telepon seluler yang langsung membuang nomor perdana setelah pulsanya habis dipakai)," tuturnya. [hid]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !