INILAH.COM, Jakarta-Lembaga survei Frost & Sullivan Indonesia mengungkapkan bahwa pemerintah Republik Indonesia harus membenahi infrastruktur secepatnya bersamaan dimulainya ASEAN Free Trade Agreement (AFTA) karena Indonesia menjadi pasar yang potensial untuk perdagangan bebas.
Menurut Country Director Frost & Sullivan Indonesia Eugene van de Weerd, Negara maupun Pemerintah pusat masih memiliki banyak tugas yang harus dilakukan dalam rangka membangun system transportasi, terutama dari perspektif logistik.
Kebutuhan akan transportasi antar-moda di Indonesia dapat dilihat mempunyai dua perspektif, yaitu untuk meningkatkan kompetisi dalam menghadapi perdagangan pasar global, dan berfungsi sebagai perantara dari integrasi bangsa, ujar Mr van de Weerd dalam siaran pers yang diterima INILAH.COM, Senin (25/1).
Ia menambahkan peningkatan perdagangan di era pasar bebas diindikasikan dengan berdirinya ASEAN Free Trade Agreement (AFTA), yang menuntut sistem nasional ekonomi yang lebih efisien.
Sistem transportasi, sebagai salah satu pengeluaran negara terbesar, perlu diminimalisasi. Sistem logistik nasional di Indonesia perlu diperbaiki dengan jaringan transportasi antar-moda yang efisien, untuk menfasilitasi besarnya volume penumpang dan kargo. Ketika ini berhasil dicapai, Indonesia akan dipandang lebih dapat berkompetisi dari segi volume dan juga dalam ketertarikan terhadap perdagangan internasional.
Masing-masing pulau atau daerah memiliki karakteristik, metode, dan integrasi yang berbeda dimana masih terus berkembang hingga saat ini. Karena Indonesia merupakan negara kepulauan, transportasi di Indonesia memiliki jangkauan spesifik untuk pembangunan skala domestik. Dalam tahap awal perencanaan, setiap metode dan infrastrukturnya direncanakan secara mandiri oleh masing-masing wilayah dan otoritas daerah.
Walaupun Indonesia memiliki banyak pulau, transportasi antar-moda belum banyak dikembangkan, dalam hubungannya dengan peran strategis dalam pembangunan ekonomi di Indonesia. Sebagai pulau terbesar dalam pembangunan ekonomi, Jawa dan Sumatera telah menjadi pusat pembangunan transportasi darat dengan investasi terbesar. Transportasi darat masih dominan untuk transportasi penumpang dan barang.
Hal tersebut dikarenakan intrastruktur rel kereta api yang masih terbatas untuk menangani volume yang sama seperti transportasi darat. Padahal jika dilihat, dengan koneksi door-to-door, jaringan rel kereta api dipertimbangkan akan dapat memiliki peran strategis dibandingkan dengan metode transport lainnya.
Semenjak fungsi transportasi darat merupakan kunci penting sarana transportasi, efek dari berkurangnya fasilitas antarmoda juga berpengaruh pada jaringan angkutan. Sebagai hasilnya, mobilisasi dari node-to-node menjadi tidak efisien, biaya transportasi menjadi tinggi dan externalities antar-moda, berpengaruh dalam mempengaruhi daya beli konsumen.
Mario Montino, Consultant Automotive & Transportation, Frost & Sullivan Indonesia mengatakan, transportasi antar-moda harus dapat menjadi jawaban bagi permintaan transportasi ekonomi global. Transportasi antar-moda harus dapat membuat Indonesia, sebagai negara dengan produksi berbiaya rendah, untuk berinteraksi dengan pasar internasional dalam biaya yang rendah. Hal ini tetap membutuhkan kerjasama dan bersaing serta tetap berhubungan antara model transportasi lokal dan internasional. Beberapa tantangan infrastruktur harus diselesaikan dalam rangka mencapai sistem transportasi antarmoda yang efisien.
Untuk negara seperti Indonesia, setiap pulau memiliki karakteristik tersendiri dalam membangun pelayanan transportasi mereka, selain transportasi darat. Berdasarkan pengamatan di negara Asia Pasifik lainnya seperti Singapura, Malaysia dan Korea dalam membangun transportasi antarmoda mereka, ada beberapa hal yang dapat dipertimbangkan untuk dilakukan di Indonesia, yaitu pembangunan model transportasi harus mempertimbangkan hubungannya dengan model transportasi lainnya untuk mempermudah transportasi kargo mencapai daerah tujuannya. Selain itu terminal kargo harus berfungsi tidak hanya untuk tempat keberangkatan atau kedatangan, tetapi sebagai tempat transit dimana interkoneksitas dengan model transportasi lain harus dipersiapkan sebaik-baiknya," ujarnya.
Dengan pertimbangan tersebut jika benar-benar secara efisien dijalankan, Indonesia akan dapat berkompetisi dalam jaringan transportasi antar-moda, untuk mencapai keuntungan kompetitif dalam transportasi kargo dan memainkan peran penting dalam ASEAN Free Trade Link.
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !