INILAH.COM, Jakarta - Sherina akui karakternya moody dan ekstrovert. Sebaliknya, dalam menjalankan pekerjaannya, ia harus bersikap terbuka. Bahkan harus bisa menggoda pria.
Seperti itukah kenyataannya? Tentang itu, berikut ini wawancara singkat INILAH.COM dengan Sherina, di kawasan Kemang Utara, Jakarta Selatan, Senin (25/1) petang.
Sibuk apa?
Aku lagi syuting klip single kedua dari album Gemini. Judul lagunya Geregetan. Ini sebenarnya lagu punya papaku yang dulu di band Giant Step. Tahun 1980-an.
Kok, bisa?
Ketika aku lagi buat demo untuk album Gemini, aku dengar lagu-lagu lama ayah, dan ternyata lagu ini cathcy banget. Makanya aku aransemen ulang dengan versi yang lebih modern.
Beban nggak?
Ini for fun saja sebenarnya. Jadi aku nggak mau terlalu dibawa beban. Ini saja sebenarnya ayah nggak mau namanya disebut. Tapi ini tantangan buat aku. Makanya aku bikin tanpa supervising ayah. Dan ayah nggak tahu dan nggak ikut campur tangan. Ayah baru tahu ketika sudah launching. Tapi ya sudah gak apa-apa.
Klipnya tentang apa?
Ceritanya tentang naksir sama cowok, tapi nggak berani ungkapin dan akhirnya alter egonya yang berbicara. Tiba-tiba semua dunianya jadi aneh, pokoknya jadi gilalah. Di sini ada dua sisi kepribadian, yang satu lebih feminin dan satu lagi lebih ekstrovert.
Maksudnya?
Ada dua orang tapi dua kepribadian. Aku juga sebenarnya gitu. Aku punya alter ego yang terpendam dan dua sisi.
Susahkah?
Susah. Karena aku harus terbuka dan nggak pernah menggoda cowok. Di sini aku tampil menggoda yang habis-habisan untuk memberi tahu cowok yang aku suka.
Bedanya dengan klip lain?
Kalau sekarang lebih lepas saja, lebih enerjik. Kalau dulu kan selalu tampil lemah lembut. Ini tantangan buat aku secara mental khususnya. Karena aku harus tampil genit, kan gue nggak genit sama sekali. Bahkan dalam pergaulan aku sangat introvert.
Termasuk sifat moody?
Aku memang moody orangnya. Bukan berarti aku berkepribadian ganda. Jalani saja. Apalagi kalau lagi datang bulan, suka moody banget.
Seperti itukah?
Banyak yang bilang begitu. Biasanya ibu selalu mengingatkan, semacam jadi pagar. Misalnya dalam pekerjaan, kalau nggak dapat feel suka malas, karena mauku selalu perfeksionis. Itu memang problem aku, dan aku harus mengatasinya.
Pacar bagaimana?
Nggak. Dia syuting juga. Kan dua-duanya kerja. Ngomongin yang lain saja, deh. [aji/mor]