INILAH.COM, Banda Aceh - Para pengunjung 'Waduk Keulileng', di Kecamatan Cot Glie, Kabupaten Aceh Besar tidak sulit menemukan kotoran ternak sapi karena objek wisata yang baru dibuka itu kurang mendapat perawatan.
"Objek wisata yang unik ini cukup bagus, namun kurang mendapat perhatian, sehingga masih ada ternak sapi berkeliaran dan kotorannya sampai berserakan di komplek waduk tersebut," kata seorang pengunjung, Razali di Banda Aceh, Senin.
Waduk Keulileng yang diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono awal 2009 itu memiliki areal sekitar 38,20 kilometer persegi (KM2).
Setelah diresmikan, ratusan orang terutama warga Banda Aceh berekreasi ke lokasi waduk tersebut. Saat ini, masyarakat sekitar waduk telah membuka warung-warung yang menyediakan berbagai makanan dan minuman ringan.
Nuriah, salah seorang pengunjung berharap pemerintah kabupaten (Pemkab) Aceh Besar agar menata kembali objek wisata komplek waduk tersebut.
Peran pemerintah dinilai dibutuhkan untuk penataan komplek waduk yang kini dijadikan sebagai objek wisata bagi masyarakat, khususnya warga Banda Aceh dan sekitarnya.
"Pemerintah mungkin perlu mengalokasikan anggaran untuk membangun pagar sekeliling waduk, sehingga ternak liar tidak berkeliaran di objek wisata," katanya.
Selain itu, diperlukan pengaspalan ruas jalan sepanjang waduk serta perlu adanya lapangan parkir yang lebih baik untuk memudahkan kendaraan bagi para pengunjung.
"Perlu dilakukan penanaman pohon di sekeliling waduk untuk menjadi tempat berteduh jika cuaca panas. Kini hanya terlihat balai yang didirikan dalam komplek waduk tersebut," katanya.
Waduk yang dibangun sejak 2000 itu diperkirakan mampu menampung air dalam jumlah yang sangat besar (tampungan total air baku di waduk tersebut adalah 18.359.078 m3). [mor]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !