INILAH.COM, Jakarta Perjanjian perdagangan bebas antara ASEAN dan China (CAFTA) tak membuat pengusaha dan perusahaan AS khawatir. Pebisnis negara adidaya tersebut bahkan menyambut baik kesempatan itu.
Dengan beroperasi di kawasan yang memiliki perjanjian CAFTA, kami juga ikut mendapatkan kesempatan untuk ekspor ke China, kata Presiden US-ASEAN Business Council (USABC), Alexander Feldman, di Gedung Deplu, Jakarta, Senin (25/1).
Menurutnya, produsen AS yang beroperasi di Indonesia menyambut baik keputusan ini. Meski juga sedikit terpengaruh potensi pengubahan CAFTA, terutama jika nantinya terjadi sesuatu yang tidak diinginkan selama implementasi perjanjian tersebut.
Sebenarnya ini bukan masalah AS, namun Indonesia, ASEAN, dan China. Tapi jika tidak berjalan dengan baik, maka akan ada kekhawatiran. Saya percaya kita semua akan mematuhi perjanjian itu. Memang seperti itulah seharusnya, lanjut Feldman.
Ditemui di tempat yang sama, Menlu Marty Natalegawa pun menegaskan bahwa pebisnis AS tak khawatir. Meski tetap menanyakan perkembangan CAFTA saat ini. Mereka sudah memahami adanya gerakan ke arah pasar terbuka di kawasan, ujar Marti, yang mengundang perwakilan dari sekitar 20 perusahaan AS yang memiliki cabang di Indonesia.
Menlu dan Feldman menghadiri sebuah forum di Gedung Deplu yang mempertemukan mereka dengan para pebisnis AS. Beberapa perwakilan perusahaan yang datang dalam kesempatan ini adalah perusaan besar seperti Conoco-Phillips, Freeport McMoRan, Microsoft, General Electrics, Caterpillar, Intel, dan lainnya. [ast]