inovasi portal berita
Kamis, 9 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.8,910.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS

Arus Ekspor CPO Masih Tetap Kencang

Headline
Istimewa
Oleh: Asteria
Selasa, 26 Januari 2010 | 05:59 WIB
INILAH.COM, Jakarta Tarif bea keluar minyak sawit atau Crude Palm oil (CPO) sebesar 3%, dinilai tidak menghambat pertumbuhan ekspor CPO selama Februari. Ekspor CPO pun bakal tetap kencang.

Hal ini diungkapkan Fadhil Hasan, Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki). Ia memaparkan, tarif bea keluar minyak sawit atau Crude Palm oil (CPO) sebesar 3% tidak akan menghambat pertumbuhan ekspor CPO selama Februari.

Ia memprediksikan, ekspor CPO tetap kencang, sebab permintaan naik 57%, terutama dari China dan India yang menjadi konsumen terbesar CPO Indonesia. Ekspor bakal makin kencang seiring berlakunya perdagangan bebas (AC-FTA). "Ini membuka peluang ekspor naik sampai 50% per tahun," kata Fadhil. Pada 2007, ekspor CPO Indonesia ke China baru sebesar 3 juta ton, dan 2008 menjadi 4,4 juta ton. Gapki memprediksi, ekspor 2009 bisa menembus 5 juta ton.

Seperti diketahui, pemerintah kembali menetapkan bea keluar (BK) sebesar 3% untuk pengiriman minyak sawit mentah Februari 2009. Tarif ini sama dengan bea keluar Januari ini. Adapun penetapan BK CPO itu disebabkan harga rata-rata CPO di Bursa CIF Rotterdam, Belanda, sejak 20 Desember 200920 Januari 2010, yang mencapai lebih dari US$750 per ton "Kenaikan harga CPO belakangan ini karena permintaan naik," kata Fadhil.

Saat ini, CIF Rotterdam masih jadi rujukan penentuan harga bea keluar dan patokan harga ekspor CPO Indonesia. Harga referensi CPO sebesar US$ 795,84 per ton, sedang harga patokan ekspor CPO (Februari) US$ 721 per ton. Sesuai Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 223 Tahun 2008, kalau harga rata-rata CPO dunia sebulan sebelumnya melebihi US$ 750 per ton, maka pemerintah menetapkan BK CPO sebesar 3%.

Sebaliknya, pemerintah akan mengenakan tarif BK 0% jika rata-rata harga CPO sebulan sebelumnya di bawah US$ 700 per ton, dan BK sebesar 1,5% saat rata-rata US$701750 per ton. Ketika harga rata-rata CPO di Rotterdam US$751800 per ton, tarif BK bulan berikutnya 3%.

Sementara itu, Pemerintah juga berencana mendorong industri hilir kelapa sawit. Indonesia saat ini merupakan penyumbang terbesar kebutuhan CPO dengan persentase 50,2% dari total produksi sawit dunia dengan penyumbang devisa bagi negara sebesar US$13,79 miliar.

Menteri Perindustrian MS Hidayat mengatakan, beberapa tahun ke depan Indonesia akan mengurangi volume ekspor CPO secara bertahap, sehingga pada 2015, volume yang diekspor hanya sekitar 50% dari total produksi. Kemudian pada 2020 menjadi 30% dengan sebagian besar CPO itu dikembangkan menjadi industri hilir.

Pada Desember 2009, harga CPO sudah menembus US$700, tepatnya US$781. Sejak itu, CPO terus mengalami kenaikan dan hingga pertengahan Januari ini harga pernah mencapai US$807,5. Permintaan CPO tahun ini juga diperkirakan meningkat, dimana konsumsi CPO dunia akan tumbuh 12,2% mencapai 3,5 juta ton. Permintaan terbesar berasal dari China dan India.

Tahun lalu, permintaan dari China sebesar 7,9% dan India 25,1% dari total ekspor Indonesia. Sedangkan Indonesia tahun ini menargetkan produksi CPO sebesar 22 juta ton, dari 2008 sebesar 21 juta ton.Sebanyak 17 juta ton untuk ekspor dan sisanya konsumsi di dalam negeri. [mdr]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.