INILAH.COM, Jakarta Saham PT Bumi Resources (BUMI), Selasa (26/1) diprediksikan menguat tipis karena kemarin ditutup di level harga tertingginya. Namun, situasi eksternal kurang kondusif. Hold BUMI! Arga Paradita Sutiono,
research analyst Asia Kapitalindo Securities mengungkapkan, potensi penguatan saham
BUMI hari ini karena pada perdagangan kemarin, saham sejuta umat ini ditutup di level harga tertingginya Rp2.675 meski dengan volume transaksi yang masih tipis. Hal ini sekaligus menandakan
buyer BUMI masih cukup kuat.
Karena itu, saham batubara
thermal ini akan terdorong menguat tipis.
BUMI akan mengarah ke level
resistance Rp2.775 dan Rp2.550 sebagai level
support-nya, katanya kepada
INILAH.COM, di Jakarta, Senin (25/1) malam. Pada perdagangan kemarin, saham BUMI ditutup stagnan di level Rp2.675. Harga tertingginya mencapai Rp2.675 dan terendahnya Rp2.600. Sedangkan volume transaksi mencapai 155,9 juta unit saham senilai Rp413,03 miliar dan frekuensi 3.183 kali.
Lebih jauh, Arga mengatakan, dari sisi sentimen, BUMI juga mendapat dukungan dari harga batubara yang masih stabil di level US$97-98 per metrik ton. BUMI sebagai produsen batubara dengan kalori tinggi, dan sebagian besar diperuntukan bagi pasar ekspor sentimennya sangat positif. Karena itu tidak ada permasalahan bagi fundamental BUMI sendiri, ujarnya.
Arga menegaskan, ekspektasi atas BUMI masih cukup menjanjikan. Sebab, koreksi harga minyak ke level US$74 per barel

pun tidak menjadi sentimen negatif bagi BUMI. Pasalnya, harga batubara tetap stabil. Apalagi, koreksi minyak sudah diekspektasikan oleh pasar akibat kelebihan
supply.
Namun demikian, Arga mengakui pengaruh harga minyak ke batubara. Sebab, untuk sektor energi, harga minyak selalu menjadi
leading indicator-nya. Harga komoditas yang lain akan turun, tukasnya.
Tapi, jika melihat harga batubara, justru masih menguat terus. Sebab, ekspektasi permintaan terhadap batubara sangat tinggi ke depan. Batubara menggantikan solar cukup tinggi terutama di China dan India. Apalagi, saat ini
supply batubara tersendat akibat buruknya cuaca, timpalnya.
Sementara itu, untuk
supply minyak, justru tidak tersendat malah berlebih di beberapa penampungan. Akibatnya, harga minyak turun. Tapi, Arga memberikan catatan, jika harga minyak dunia terus turun, harga batubara pun sebagai substitusi bisa juga melemah.
Di sisi lain, pergerakan BUMI saat ini juga terkait dengan situasi regional yang kurang baik. Akibatnya, untuk mengoleksi saham ini, pasar
agak terhambat. Pada saat yang sama, pasar saat ini masih menunggu kejelasan
rights issue perseroan. Hal ini dipicu oleh China Invesment Cororation (CIC) yang meminta utang BUMI senilai US$1,9 triliun dikonversi ke saham.
Karena itu, BUMI harus menambah saham baru. Bagi pemegang saham yang memiliki uang, bisa di-
exercise. Tapi, bagi yang tidak memiliki uang bisa melepas sahamnya. Jika tidak, kepemilikan sahamnya terdilusi persentasenya tapi jumlah lembar sahamnya tetap.
Arga kembali menegaskan, dari sisi fundamental pendapatan, saham BUMI masih bagus meski masih terbebani utang. Dengan
rights issue beban utang BUMI bisa berkurang.
Total utang BUMI kurang lebih mencapai Rp35 triliun. BUMI pada dasarnya masih cukup baik. Tapi saat ini BUMI masih cenderung konsolidasi. Penguatan pun masih terbatas, imbuhnya.
Untuk itu, Arga merekomendasikan
hold untuk BUMI hingga akhir Januari. Karena memang saat ini merupakan masa-masa konsolidasi. Namun kecenderungan menguat masih tetap ada.
Ia memperkirakan pada pertengahan Februari saham ini akan kembali
hot. Pasalnya, dari Asia Kapitalindo menilai, valuasi saham BUMI sebenarnya masih rendah.
Target price BUMI berada di level Rp3.200 per lembar saham.
BUMI memang sangat
volatile sehingga apapun isunya akan membuatnya bergerak. Secara fundamental harga BUMI masih di bawah
target price, pungkasnya. [mdr]