INILAH.COM, Jakarta - Apakah seorang anak jalan memerlukan rumah singgah? Ternyata tidak semua anak jalanan membutuhkan rumah singgah.
Sebagian besar anak-anak yang berkeliaran di jalan kota Jakarta adalah anak-anak yang memiliki orang tua. Siang mengamen atau mengemis, sore hari mereka pulang ke rumah dan menyetorkan hasilnya kepada orang tua atau pengasuhnya.
Menurut Peneliti Pusat Data dan Pelporan KPAI Budi Prabowo, rumah singgah malah tidak menyelesaikan masalah sama sekali. Sebab, kebanyakan anak jalanan sekarang adalah anak jalanan yang pulang ke rumah dan orang tuanya.
Justru orang tua mereka lah yang yang memaksa anak-anak itu menggelandang di jalanan. Dalam sebuah hasil penelitiannya, Budi Prabowo mengkategorikan anak-anak jalanan menjadi dua kategori yaitu on the street dan off the street.
Anak jalanan on the street adalah anak yang minggat dari rumah dan meninggalkan keluarganya. Menurut Budi keberadaan anak jalanan model ini hanya marak hingga akhir dekade 90-an. Pada masa itu anak jalanan adalah anak yang minggat dari rumah, kabur dari orang tua mereka, jelas lulusan UGM ini.
Setelah krisis ekonomi tahun 1998 hingga sekarang, populasi anak jalanan justru lebih banyak didominasi oleh mereka yang masuk kategori terakhir, anak jalanan off the street.
Mereka adalah anak-anak yang menggelandang, mengemis, atau mengamen di jalanan. Namun, tetap pulang ke rumah orang tuanya seeprti disebut di awal.
Solusi atas kondisi seperti itu, menurut peneliti yang sangat akrab dengan anak jalanan ini, bukan hanya dengan menyediakan rumah singgah. Kita sudah mafhum, bahwa pengadaan rumah singgah hanya proyek mencari untung aparat belaka, tuduhnya, Jakarta, Selasa (26/1).
Ketua KPAI Hadi Supeno juga menekankan bahwa keberadaaan rumah singgah yang telah ada harus dievaluasi. Menurut Hadi, lebih baik fungsikan rumah singgah yang ada dengan melibatkan para pekerja sosial profesional. [bar]