Penilaian sementara kalangan bahwa pemerintahan SBY-Boediono telah gagal menyejahterakan rakyat Indonesia boleh disebut sebagai penilaian yang sangat tidak cerdas.
Negeri ini sudah dibangun sejak puluhan tahun yang lalu oleh para penguasa yang sudah berulang kali berganti.
Sudah banyak kemajuan yang berhasil diraih tanpa harus menutup mata terhadap masih banyak aspek kesejahteraan rakyat yang belum tercapai.
Alangkah tidak bijaksananya kalau kita membebankan semua ketimpangan pembangunan negeri ini kepada pemerintahan SBY-Boediono.
Maka dari itu, jika aksi massa tanggal 28 Januari 2010 nanti bertujuan untuk mengadili kegagalan 100 hari pemerintahan SBY-Boediono, aksi tersebut tidak lebih dari sekedar konvoi spanduk, poster, yel-yel dan orasi jalanan dari sekelompok orang yang anti SBY-Boediono.
Kalau saja tokoh-tokoh yang berada di belakang aksi jalanan itu memang memiliki kelebihan rejeki, punya pemikiran yang jernih dan bijak, peduli terhadap penderitaan rakyat, akan lebih bermanfaat jika dalam 100 hari ke depan, massa yang sudah siap turun ke jalan itu dikerahkan untuk kerja bhakti di komunitas-komunitas masyarakat miskin kota.
Selama 100 hari kedepan sejak 100 pemerintahan SBY-Boediono mereka dimobilisasi oleh aktor-aktor aksi massa untuk membersihkan saluran air yang mampet, membersihkan sampah, membangun MCK, menggali sumur resapan air, menanam pohon di jalur hijau dan sebagainya yang dampaknya akan langsung menyentuh kesejahteraan rakyat miskin kota yang masih tinggal di tempat-tempat kumuh.
Dari pada hanya mencari proyek dengan memobilisasi massa atas nama demi kebaikan bangsa dengan hujatan dan makian. Lebih baik melakukan sesuatu untuk bangsa ini dengan kepandaian yang dimiliki.
Dipilih oleh lebih dari setengah penduduk negeri ini merupakan legitimasi berupa amanat yang jelas bagi SBY. Sehingga percuma berpikir dengan aksi demo bisa "merubah" bangsa ini atas penilaian subjektif 100 hari pemerintahan SBY.
Ir. Sarjito
Volunteer NGO, tinggal di Lhok Seumawe-NAD