inovasi portal berita
Minggu, 12 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.8,993.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS

Ekspektasi Permintaan CPO Angkat Saham Agro

Headline
Istimewa
Oleh: Ahmad Munjin & Asteria
Selasa, 26 Januari 2010 | 14:59 WIB
INILAH.COM, Jakarta Ekspektasi peningkatan permintaan minyak kelapa sawit (CPO) akan mendongkrak saham sektor perkebunan. Apalagi harga CPO terus merosot sehingga terus memicu permintaan. Sudah belikah anda?
Arga Paradita Sutiono, research analyst Asia Kapitalindo Securities menilai, sektor perkebunan masih cukup baik. Hal ini didukung permintaan crude palm oil (CPO) dunia yang tetap tumbuh 5-7% per tahun.
Pesatnya permintaan berasal dari China, India, Pakistan, dan Timur Tengah. Meski agak sedikit terganggu panen kedelai di Eropa dan Amerika Utara, katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Selasa (26/1).
Menurutnya, saat terjadi panen kedelai, pasokan CPO menjadi berlebih, sehingga mengganggu penjualan di pasar domestik, berlanjut pada turunnya harga. Harga CPO masih lebih murah terutama ketimbang harga-harga minyak nabati lain, seperti minyak bunga matahari dan minyak bunga kedelai, paparnya.
Arga menilai, murahnya harga CPO ini juga memicu aktifnya negara-negara seperti China, India, Pakistan, Bangladesh, dan negara-negara di Timur Tengah, melakukan pembelian CPO.
Kondisi ini didukung permintaan domestik yang masih cukup tinggi, baik untuk konsumsi maupun produk turunannya di sektor farmasi dan kosmetik. Jadi, sektor ini masih cukup menjanjikan, dilihat dari tingkat permintaan, tukasnya. Hal ini akan lebih bagus lagi jika ditopang harga jual CPO sendiri.
Ia menambahkan, harga jual CPO saat ini masih mengikuti harga minyak mentah dunia, dengan korelasi yang cukup tinggi. Ini berarti, kalau harga emas hitam turun, permintaan minyak akan tinggi dan demand CPO akan rendah. Hal ini karena para pengguna CPO beralih ke minyak seperti solar, ucapnya.
Selain itu, imbuh Arga, turunnya harga minyak, juga akan membuat ongkos produksi manufaktur merosot. Sehingga permintaan CPO tipis dan harganya akan turun. Arga memperkirakan pelemahan harga minyak masih akan berlanjut. Minyak masih akan turun ke US$70 per barel, imbuhnya.
Saham pilihan di sektor ini yang masih cukup prospektif adalah PT Bakrie Sumatera Plantation (UNSP) dan PT Sampoerna Agro (SGRO). Saya rekomendasikan beli untuk 2-3 pekan, ujarnya.
Saham UNSP menarik, terkait akuisisi Domba Mas. Anak usaha Bakrie ini pun akan bergerak di level resistance Rp660 dan Rp570 sebagai level support-nya. Sedangkan SGRO ditargetkan di level resistance Rp3.000 dan Rp2.775 sebagai level support-nya.
Sedangkan Samuel Sekuritas merekomendasikan investor untuk simpan dulu saham PT Astra Agro Lestari (AALI), hingga target harga tercapai. Hal ini terkait kinerja perseroan 2009 lalu. Kami rekomendasikan hold AALI, katanya.
Sepanjang 2009, AALI mencetak kenaikan penjualan CPO sebanyak 8,8% menjadi 1,056 juta ton, dari sebelumnya 970 ribu ton. Produksi perseroan mencapai 1.082.000 ton CPO dari panen tandan buah segar kelapa sawit lahan inti, plasma, dan pembelian pihak ketiga.
Sekitar 86,1% atau 909 ribu ton diserap pasar sementara 13% atau 146 ribu di ekspor.
Meskipun penjualan naik namun harga jual rata-rata CPO turun 15,7% year on year, dari Rp7.221/kg menjadi Rp6.242/kg. Sementara harga kernel turun menjadi Rp2.586/kg. Tahun ini AALI manargetkan produksi CPO tumbuh 10% atau menjadi 1.162 juta ton. Sedangkan capex perseroan ditargetkan Rp 1,4 triliun untuk pembukaan lahan baru.
Hal senada juga diungkapkan analis BNI Securities Asti Pohan. Menurutnya, valuasi AALI dibandingkan perusahaan sejenis saat ini berada di atas rata-rata. Sehingga kami merekomendasi hold untuk AALI," tuturnya dalam riset harian Selasa (26/1).
Asti memprediksikan, asumsi harga rata-rata CPO tahun ini mencapai US$750 per ton. Ini berarti, Astra Agro berpotensi membukukan penjualan Rp 7,2 triliun. Sedangkan perhitungan harga wajar AALI berada di level Rp 25.000.
Di sisi lain, Trimegah securities merekomendasikan PT London Sumatra (LSIP). Menurutnya, secara teknikal LSIP berada dalam uptrend channel yang berlangsung sejak awal November dengan volume yang menurun dalam tiga hari terakhir.
Indikator Stochastic telah bergerak ke atas meninggalkan area oversold-nya. Rekomendasi dari kami adalah untuk trading buy dengan level resistance di kisaran 9.200-9.250, ujarnya. [mdr]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.