INILAH.COM, Jakarta Saham BUMI, Rabu (27/1) diprediksikan melanjutkan pelemahan seiring negatifnya sentimen market. Bahkan, dikhawatirkan akan mengarah ke level Rp2.200 pada pekan depan. Pengamat pasar modal, Irwan Ibrahim mengatakan, potensi pelemahan saham PT Bumi Resources (
BUMI) hari ini masih dipicu negatifnya sentimen market seiring pengetatan likuiditas di China. Hal ini sudah memicu banyak perbankan di negara itu yang melakukan
rights issue akibat keringnya likuiditas.
Sebelumnya, otoritas moneter di China sudah menyerukan perbankan untuk membatasi kucuran kredit. Kemudian disusul dengan kenaikan Giro Wajib Minimum (GWM) menjadi 16% dari 15,5% sebelumnya.
Karena itu,
BUMI akan mengarah ke level
support Rp2.475 dan Rp2.625 sebagai level
resistance-nya, katanya kepada
INILAH.COM, di Jakarta, Selasa (26/1), petang.
Pada perdagangan kemarin, saham BUMI ditutup melemah Rp100 (3,73%) menjadi Rp2.575 dibandingkan sebelumnya di level 2.675. Harga tertingginya mencapai Rp2.675 dan terendahnya Rp2.500. Volume transaksi mencapai 503,2 juta unit saham senilai Rp1,2 triliun dan frekuensi 12.116 kali.
Lebih jauh Irwan mengatakan, dengan ketatnya likuiditas di pasar regional dan global, tren harga komoditas juga turun. Harga minyak saat ini berada di level US$74 per barel

. Ini akan berpengaruh negatif pada saham-saham sektor komoditas termasuk BUMI. Apalagi harga minyak akan terus turun ke level US$72 per barel

. Bisa-bisa ke US$71, timpalnya.
Sentimen negatif China juga diperparah dengan pemerintah Obama yang juga memperketat sistem perbankan di AS. Obama berencana membatasi perbankan membiayai
hedge funds dan
private equity funds. Obama juga berencana memecah korporasi perbankan yang terlalu besar. Tujuannya sih baik, untuk membatasi tingkat risiko, imbuhnya.
Namun, pasar saat ini merespons negatif. Sebab, rencana Obama itu akan mengerek naik
cost of fund perbankan. Apalagi, langkah ini kemungkinan juga akan diikuti dengan Federal Open Market Committee (FOMC) pada pertemuan berikutnya. Kemungkinan tingkat suku bunga AS mulai naik, paparnya.
Investor mulai khawatir kemungkinan dinaikkannya suku bunga pada pertemuan FOMC mendatang. Alhasil, investor beralih ke portofolio dolar AS sehingga bursa saham di seluruh dunia rontok. Investor juga keluar dari komoditas. Hal ini ditandai dengan koreksi harga minyak. Ini tentu sangat negatif bagi BUMI, tukasnya.
Irwan menegaskan selain sentimen market, tidak ada lagi yang berpengaruh pada pergerakan saham BUMI hari ini. Termasuk, aksi korporasi sekalipun. Karena memang, indeks lokal pun akan terus turun seiring berlarut-larutnya penanganan skandal Bank Century oleh Pansus DPR, ungkapnya.
Untuk itu, Irwan merekomendasikan
wait and see atas BUMI. Irwan mengkhawatirkan BUMI akan menuju level Rp2.200 hingga pekan depan. Tapi, dia menyarankan agar pelaku pasar jangan buru-buru
cut loss sambil menunggu
rebound berikutnya setelah data fundamentalnya dirilis.
Kira-kira Maret, BUMI akan naik lagi, imbuhnya. Justru, pada saat pelemahan merupakan kesempatan emas bagi investor untuk melakukan pembelian. [mdr]