INILAH.COM, Jakarta - Gagal mengakuisisi Bahtera Adiguna, PT Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA) akan menyiapkan langkah alternatif. Di lantai bursa, nilai sahamnya melambung tinggi.
Pemegang saham PTBA, Kamis (30/5) malam, memang memutuskan tidak menyetujui rencana akuisisi perusahaan pelayaran PT Bahtera Adiguna. Keputusan itu melalui perdebatan panjang.
"Pemegang saham PTBA yang setuju akuisisi Bahtera hanya 48%, sisanya 52% tidak menyetujui," kata Direktur Utama PTBA, Sukrisno di Jakarta seusai Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB).
Manajemen perseroan sempat tidak habis pikir dengan penolakan pemegang saham itu mengingat produksi batubara perseroan 80% diangkut lewat laut. Apalagi BUMN pertambangan itu akan menggenjot produksi hingga 50 juta ton pada 2015.
Analis Trimegah Securities, Adi Hartadim dalam riset hariannya memaparkan, pihaknya masih menargetkan harga saham PTBA di level Rp15.000 per saham untuk investasi jangka panjang dengan rekomendasi beli. Siang ini, saham PTBA diperdagangkan pada angka Rp14.950, naik Rp1.050 dari penutupan kemarin yang Rp13.900
Menurut Adi, PTBA tentu akan menyiapkan langkah alternatif setelah penolakan pemegang saham itu. Langkah alternatif itu bisa dengan membentuk perusahaan pelayaran sendiri, yang ditujukan untuk menghilangkan ketergantungan terhadap perusahaan pelayaran saat ini.
"Juga meningkatkan kemampuan dalam memenuhi permintaan pasar secara lebih efisien. PTBA juga akan membagikan dividen sebesar 50% dari total laba bersih pada 2007, setara Rp164,9 per lembar atau dividen yield sebesar 1,2%," papar Trimegah.
Menurutnya, Trimegah optimistis apa yang dilakukan manajemen perseroan akan membuahkan hasil yang positif terhadap kinerja perusahaan. Optimisme itu didasarkan pada ekspansi proyek dengan skala besar, masih besarnya cadangan bahan tambang, serta harga jual batubara yang bakal terus meningkat sehingga diproyeksikan akan mendorong pendapatan.
Perseroan memang berniat mengambilalih seluruh saham milik pemerintah di Bahtera Adiguna (BAG). Keinginan itu sudah disampaikan manajemen kepada Menteri Negara BUMN pada 11 April 2008.
PTBA juga berencana membentuk perusahaan patungan dan proyek pembangunan railway & port. Pembentukan perusahaan patungan dengan PT Kereta Api Indonesia (KAI) dimaksud untuk memudahkan pengelolaan dan pengembangan angkutan dan pengadaan perjanjian pengangkutan batubara antara perseroan dengan perusahaan patungan.
Dalam RUPSLB, pemegang saham PTBA juga memutuskan untuk membagikan dividen sebesar Rp164,97 per saham atau totalnya setara 50% dari perolehan laba bersih 2007 yang mencapai Rp760,2 miliar.
Dibandingkan dengan jumlah dividen yang dibagikan untuk tahun buku 2006 sebesar Rp105,39 per saham, maka dividen yang dibagikan sekarang ini naik 56,52%. Peningkatan nilai dividen ini seiring dengan naiknya laba bersih 2007 sebesar 57% yang tumbuh dari Rp486 miliar menjadi Rp760 miliar.
Kenaikan ini diperoleh dari penjualan batubara sebesar 10,85 juta ton dengan total pendapatan Rp4,12 triliun atau lebih tinggi 17% dibandingkan 2006.
Untuk triwulan I 2008, perolehan laba bersih PTBA sebesar Rp286,39 miliar atau naik 44% dibandingkan periode sama sebelumnya. Sedangkan pendapatannya sudah mencapai Rp1,23 triliun.
Sementara itu harga jual batubara di pasar ekspor pada periode Januari-Maret 2008 terjadi kenaikan 36% menjadi US$59,7 per ton. Dari 2,69 juta ton penjualan PTBA periode Januari-Maret 2008, sebanyak 32% di antaranya merupakan penjualan ekspor. [I4]