INILAH.COM, Jakarta - Kabareskrim Polri, Komjen Pol Ito Sumardi menegaskan bahwa pembobolan ATM terjadi karena banyak orang yang belum sadar untuk mengamankan ATM sendiri.
Inilah hasil wawancara dengan Kabareskrim di Mabes Polri, Rabu (27/1):
Bagaimana perkembangan kasus pembobolan ATM?
Masih jalan terus. Anggota kita di lapangan terus melakukan penyelidikan. Mudah-mudahan dalam waktu dekat ini kita sudah dapat hasilnya.
Seberapa luas kasus pembobolan ini terjadi di Indonesia?
Kalau lihat laporan dari Polda-polda, ternyata banyak orang yang baru sadar bahwa ATM nya dibobol. Oleh karena itu dalam kesempatan ini, kita sampaikan sebaiknya mereka yang mempunyai simpanan di bank itu supaya melakukan pengecekan. Apabila ada hal-hal yang tidak wajar, bisa melaporkan kepada kepolisian terdekat.
Apakah semua laporan pembobolan ATM diterima?
Itu nanti kan dilihat kapan dilakukan penarikkannya yang secara tidak wajar itu.
Kalau kejadiannya sudah lama?
Bisa. Itu yang kita bicarakan dengan otoritas perbankan. Semua perbankan yang mengurus masalah bank, baik itu perbanas maupun perbankan swasta, dalam waktu dekat akan kita ajak bicara.
Kemarin kan kita sudah ketemu BI, dan Direktur BCA. Kami sangat appriciate terhadap perbankan yang sudah mengganti kerugian nasabah. Ini sudah berlangsung sejak 2006.
Kalau sudah ada ganti rekening yang dibobol, apakah ini akan menutup kasus pidananya?
Tidak. Tetap itu, kan hanya merupakan tanggung jawab bank terhadap nasabah.
Masalah pidananya, kita lihat nanti dari Tim Dir II yang sudah melakukan suatu bukti permulaan yang kuat yang bisa mengungkap lebih besar lagi.
Apakah ini terjadi di seluruh provinsi?
Ya, hampir di semua rata-rata. Sekarang seluruh Polda sedang menangani masalah ini.
Apa ini menjadi prioritas?
Ya, menjadi prioritas utama bagi kita.
Adakah pemeriksaan terhadap pihak bank sendiri?
Ini kan sistem. Yang mau dituntut apa? Kalau pidana kan ada bisa dimanfaatkan untuk kejahatan. Makanya, kita dengan otoritas perbankan nanti akan menunjukkan demo suatu alat pengaman bagi ATM yang dilakukan di seluruh Indonesia dengan menggunakan biometrik, finger print scanner.
Mudah-mudahan dengan alat yang sudah digunakan di negara Amerika dan Eropa itu, akan mencegah kejahatan. Karena orang tidak bisa menggunakan transaksi tanpa ada identifikasi identitas dirinya melalui sidik jari.
Polisi pernah meminta keterangan dari pihak bank?
Iya dong. Kita tanyai, kaitannya apa, bagaimana pemasangan, siapa outsourching-nya, kalau pemasangan itu bekerja sama dengan outsourching, mungkin ada hal-hal yang tidak wajar dari penarikan uang itu, secara manual bisa tapi tidak diketahui nasabah.
Selama ini penyebabnya ada kelemahan dari sistem.[bay/ims]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !